Salam Peduli ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Redaksi   |  Biro Daerah

Jumat, 25 November 2011

Akibat Penambangan, 10 Titik Pantai Wisata Rusak

Tasikmalaya, Radar Nusantara
Aktivitas penambangan pasir besi di sepanjang pantai selatan Kabupaten Tasikmalaya ternyata menghasilkan sekelumit masalah, selain terjadi penolakan oleh masyarakat juga pemerintah setempat, penambangan juga dituding telah merusak lingkungan pantai kawasan wisata. Kerusakan kawasan pantai di sepuluh desa Kabupaten Tasikmalaya juga dianggap akan berdampak pada sektor perekonomian di kemudian hari.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Ir. Herdiwan Iing Suranta, M.Si, mengungkapkan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat kini masih menunggu arahan dari Gubernur Jawa Barat untuk mengambil langkah prepentif dalam penanganan kawasan wisata pantai yang mengalami kerusakan akibat penambangan pasir besi di Tasikmalaya Selatan.

“Sekitar sebulan lalu kami menerima laporan mengenai sejumlah objek wisata pantai yang mengalami merusakan akibat aktivitas penambangan pasir besi di Kabupaten Tasikmalaya. Sayangnya kami tidak bisa berbuat banyak secara langsung karena terbentur undang-undang (UU No 22/1999 tentang otonomi daerah, Red),” ungkap Herdiwan Iing Suranta.

Berdasarkan data yang diterimanya, aktivitas penambangan pasir besi saat ini masih berlangsung di sepuluh titik yang berada di sepuluh desa. Pantai yang mengalami kerusakan berada di Desa Ciheras, Ciandum,Cikawungading, Cidadap, Mandalajaya, Cikalong, Cikadu,Sindangjaya, Kalapagenep, dan Desa Cimanuk. Sedangkan pantai Sindangkerta dan Cipatujah yang merupakan objek wisata pantai andalan Kabupaten Tasikmalaya masih dapat diselamatkan.

Herdiwan menjelaskan, aktivitas penambangan pasir besi oleh sejumlah pengusaha selain mengakibatkan kerusakan pantai berupa abrasi, amblasan hingga mundurnya garis pantai juga berdampak pada tata letak dan keindahan obyek wisata pantai. Akibat kerusakan tersebut dipastikan lingkungan pantai tersebut tidak akan dapat dipulihkan seratus persen.

Padahal kata dia, beberapa lokasi penambangan merupakan kawasan objek wisata yang selama ini menjadi tempat perputaran roda perekonomian masyarakat sekitar kawasan wisata. Bila aktivitas penambangan pasir besi tidak segera dihentilan, kerusakan lebih parah akan terjadi di sejumlah titik pantai yang semestinya dijadikan obyek wisata.

Akvitas penambangan pasir juga berdampak pada kerusakan infrastuktur, terutama jalan yang mengalami kerusakan akibat dilalui truk bermuatan pasir. “Padahal pemerintah provinsi maupun pusat tengah menggenjot pembangunan wilayah Jabar Selatan,” tegas Herdiwan.

Sebelumnya, Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Tasikmalaya Engkus Koswara menyatakan telah menyampaikan surat ke seluruh pengusaha pertambangan agar menjaga kawasan objek wisata. Selain itu, pihaknya juga terus melakukan konsultasi dengan Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum serta berkoordinasi dengan Dinas Pertambangan dan Energi termasuk Kantor Lingkungan Hidup Pemkab Tasikmalaya.
“Dalam RTRW memang peruntukkannya bagi pengembangan pariwisata bukan untuk pertambangan, makanya dengan adnaya aktivitas penambangan saat ini jelas sekali sangat berpengaruh baik pada arus kunjungan serta keberadaan objek wisatanya sendiri. Imbasnya PAD dipastikan akan berkurang dari target yang telah ditetapkan, makanya kami terus melakukan koordinasi agar jangan sampai persoalan ini malah membunuh sektor pariwisata,” papar Engkus.

Engkus menyebutkan, sepanjang 53 kilometer kawasan pantai selatan Kabupaten Tasikmalaya dari ujung barat hingga timur terutama yang terdapat titik-titik objek wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Tasikmalaya berusaha keras untuk mempertahankan dan melestarikan lingkungannya. “Makanya kami minta tolong dan kerjasamanya kepada seluruh perusahaan penambangan agar mengikuti tata aturan terutama undang-undang dalam kepariwisataan,” tegasnya.

Titik objek wisata di kawasan pantai selatan Kabupaten Tasikmalaya yang paling banyak dikunjungi wisatawan diantaranya, Pantai Pamayangsari, Sindangkerta, Karangtawulan, serta kawasan pantai Cikalong. Namun, nyaris di seluruh kawasan yang berdekatan dengan kawasan tersebut kini telah dilakukan akttivitas penambangan pasir besi. Sehingga bukan hanya kawasan pantainya yang rusak dan tidak lagi bisa dinikmati wisatawan, tetapi juga sejumlah potensi perikanan pun semakin berkurang. (BSK)

Ir. Herdiwan Iing Suranta, M.Si

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar untuk memberikan tanggapan/ pertanyaan.