Salam Peduli ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Redaksi   |  Biro Daerah

Rabu, 08 Februari 2012

Kasus Dugaan Malpraktek, Pihak keluarga Minta Pertanggungjawaban


Natuna, Radar Nusantara

Kasus dugaan malpraktek menimpa Syahirin (13), masih duduk kelas 6 Sekolah Dasar Pian Pasir. Desa Mubur Kecamatan Payalaman Kabupaten Kepulauan Anambas kepri. Menanti, kepastian hukum selama 2 tahun.  Hasil penelusuran para wartawan dilapangan, kasus yang menimpa korban. Hingga berita ini diturunkan, Belum P.21 untuk di ajukan kepersidangan. Masih dalam proses penyidikan kembali di Mapolres Natuna yang dilimpahkan dari Polsek Palmatak Kabupaten Anambas- Kepri.   

Ironis, memang. Nasib naas yang menimba Syahirin. Bocah si mata wayang putra bungsu Abdul Satar (63). Tampaknya,  pasrah tapi tak rela. Kepala kemaluan Syahirin terpotong, akibat, kelalaian AP, Amk .Berprofesi sebagai perawat tetap di RS Umum lapangan Payalaman. Status PNS sebagai tersangka. Kasus ini berawal pada kegiatan Sunatan Massal  yang diselenggarakan pada (13/5/2010) lalu, oleh RS umum lapangan Payalaman dalam rangka HUT yang ke-empat tahun. Bagi korban,  yang masih ingusan ini. Memamg,  belum mengerti fungsi alat kelamin yang sebenarnya. Namun, bagi  Zamri (39) kakak korban sudah menikah  jauh lebih paham. Bagaimana, masa depan adiknya kedepan. Melihat peristiwa ini. Harapan hidup berbahagia adiknya untuk menjalin rumah tangga menjadi hancur lebur. Cikal bakal cacat  fisik seumur hidup. Bahkan, diduga  tak bisa memberikanan keturunan lagi kelak. Sehingga, kakak korban  (zamri-red)   sebagai penganti orangtua. Berjuang dan menuntut keadilan. Meminta, pertanggungjawaban kepada pihak pelaksana kegiatan sunatan massal. Terhadap nasib Syahirin yang bakal diderita Adiknya. Menurut keterangan Zamri (kakak korban), pada  selasa (24/01) minggu lalu, sekitar pukul, 9,30 wib kepada para wartawan di kantor gedung sekretariat Persatuan jurnalis Natuna (PJN) di  jl. Datuk Kaya Wan Mohammad Benteng No, 102 Ranai. Natuna – Kepri. Sengaja, mendatangi kumpulan 33 awak koran cetak maupun eletronika ini. Guna mengadukan kasus yang menimpa adiknya tersebut. Iskandar Pohan sekretaris Umum PJN, menanggapi keluhan tamu. Sebelumnya, telah mengisi daftar tamu sebagaimana biasanya. Di hadapan beberapa wartawan turut  antusias. Mendengar penjelasan Zamri didampingi kerabatnya. Kasus yang menimpa keluarganya, sudah lebih dari dua tahun. Belum ada kepastian hukum.  Pada waktu itu, kejadian terjadi. Kami pihak keluarga tidak pernah diberitahu oleh pihak RS umum lapangan. Tempat Kejadian Perkara (TKP). Bahwa adik kami ini kepala kemaluannya terpotong. Namun, yang dirasakan syahirin waktu itu. Dia merintih, menanggis dan perut membesar. Akibat, tidak bisa buang air kecil. Setelah kami tidak tahan melihat keluhanya. Kembali, dibawa ke RS umum lapangan. Untuk diperiksa oleh dokter. Tetapi, waktu dilakukan pemeriksaan terhadap keluhan pasien adiknya. Dokterpun tidak menjelaskan penyebabnya. Hanya, diberi saran untuk di pasang selang,  agar korban dapat buang air kecil. Demi untuk kesembuhan bocah pendiam ini. Pihak keluarga mengizinkan. Untuk di pasang selang sebagai saluran alternatip. Setelah, beberapa hari di RS Umum lapangan tersebut. Sakit yang diderita adiknya. Tak kunjung sembuh. Pada, akhirnya. Pihak keluarga memutuskan dan atas izin dokter. Untuk membawa adiknya pulang kerumah untuk dirawat. Sebut, Zamri. Kemudian, tepatnya pada (15/05/2010) pihak RS Umum lapangan. Membawa Syahirin untuk dirujuk ke RSCM di Jakarta, didampingi tersangka sebagai utusan RSU umum lapangan Payalaman. Setelah, diperiksa oleh dokter ahli RSCM setempat. Diketahui kepala kemaluan syahirin sudah terputus dan terinfeksi. Akibat, keterlambatan pengobatan. Menurut dokter tersebut, kata (zamri-red),  terkejut dan kaget. Sambil bertanya kepada tersangka. kok bisa begini, kata dokter yang memeriksa. Tidak dibenarkan lagi menggunakan laser untuk menyunat pasien sebut, dokter. Ditirukan zam. Perawat AP,Amak (tersangka) tidak bisa menjawab dan tertunduk diam, cetusnya.

 Korban (Syahirin-red) harus menjalani rawat inap selama 13 hari di RSCM Jakarta. Setelah, kakak korban mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Kembali, dari RSCM jakarta. Mendatangi Sofyan, SKM pada waktu itu menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Anambas. Meminta dan menuntut pertanggungjawaban atas kecerobohan pegawainya. Terhadap peristiwa yang dialami oleh adiknya. Diantaranya. Memohon menormalkan kembali, alat kelamin adiknya seperti sediakala, membantu biaya perawatan syahirin selama delapan bulan dirumah orangtua korban. Jika, alat vital  Syahirin, tidak dapat berfungsi seperti biasanya. Pihak keluarga akan menuntut RSUmum lapangan secara hukum. Tegas, Zam. Mendengar kisah tersebut, para wartawan turut prihatin. Sedih, dan teringat. Bila, kasus seperti ini menimpa keluarga kita. Apakah ?  langkah yang ditempuh Zamri bin Abdul Satar ini salah ?. Untuk meminta pertanggjawaban kepada pihak terkait, atau memang kita berdiam diri serta pasrah begitu saja. Tentu saja, kita sepakat untuk mengatakan TIDAK. Usaha terakhir pihak RSUmum lapangan Payamanan. Seperti diungkapkan oleh Kakak korban. Pihak RSU Lapangan bermaksud untuk dioperasi, pada Rumah Sakit swasta Medistra di Jakarta Selatan. Agar alat kelamin Syahirin dapat berfungsi dengan baik. Melalui dokter Ririn selaku pendamping dari RS Umum lapangan, menyampaikan kepada pihak keluarga untuk bersiap-siap untuk berangkat ke RS Medistra Jakarta, lanjutan pengobatan Korban. Rupanya, harapan sembuh untuk adiknya masih terbuka. Tetapi, apa mau dikata, keluarga miskin ini tak mempunyai dana untuk biaya berangkat  apalagi biaya operasi. Namun, dokter pendamping berupaya meyakinkan pihak keluarga. Segala biaya akan ditanggung oleh RSUmum. Terang, Zam seperti disampaikan dr Ririn kala itu. Pada, akhirnya di Bandara Chonoco philip pesawat boeing terbang membawa mereka menuju RS Meditra di Jakarta. Entah, nasib apa yang menimpa Syahirin. Ditengah pengurusan adminitrasi pada RS Medistra. Pasien diwajibkan untuk memberi panjar biaya operasi terlebih dahulu. Kemudian,  baru operasi dilaksanakan. Mendengar penjelasan dokter setempat. Dr Ririn terkejut dan kebingungan. Lantas, mengajak pihak keluarga musyawarah mengenai biaya operasi. Ternyata, dokter pendaping tersebut, tak mampu memenuhi persyaratan operasi  Syahirin alias tak bawa uang. Apalagi kami, dari awal kita sudah disampaikan tak punya biaya untuk operasi. Lalu, kenapa dokter nekat, mengajak kami kesini, Kesal, Zamri. 

Harapan sembuh Syahirin berada diujung tanduk. Kemudian, atas permintaan maaf dan memberi solusi dr, Ririn kepada pihak keluarga. Mohon izin, untuk kembali ke Tarempa. Guna untuk membicarakan kendala di RS Medistra, dengan atasan. Dan sekaligus membawa biaya operasi korban. Selama tujuh hari. Mendapat izin dari Zamri. Namun, apa yang terjadi, setelah kepergian dr Ririn. Operasi gagal, dan pihak keluarga di penginapan kehabisan uang. Kabar dari dr,Ririn pun terputus. Hp berbunyi tulalit  alias tak akti. Hingga hari ke sepuluh. Tetapi, usaha zamri terus mencoba, menghubungi nomor seluler  dr, Ririn. Nada tersambung aktif terdengar suara dokter Ririn. Lantas menjawab. “ Mohon maaf pak, dana untuk biaya operasi belum cair. Tapi, tetap kita usahakan secepatnya pak. “ sebut  Zam,  menirukan jawaban dr Ririn melalui percakapan telepon. Sehingga kakak korban, tak dapat berbuat banyak. Hanya, ngurutuk dan kesal atas jawaban. Dokter tetap berada di Tarempa. Hingga 38 hari lamanya, menunggu kepastian operasi di jakarta. Tak kunjung datang. 

Merasa tidak digubris dan dikelantarkan oleh pihak RS Umum lapangan. Timbul niat untuk mencari keadilan melalui lawyer (pengacara). Tetapi, binggung, harus kemana. Mungkinkah, masih ada orang yang mau membela, peduli dan rela membantu. Permasalahan yang dialami Zamri dan keluarganya. Apalagi di Jakarta. Tetapi, bagi Zam,  tidak ada kata menyerah dan kata tidak mungkin.  Dengan penuh tekat dan keyakinan. Bermodal nekat, tak malu-malu mencoba mendatangi alamat Majapahit 18-20 Komplek Majapahit Permai blok B 122 -123 Jakarta. Terpampang merek Otto Cornelis Kaligis & Associates Advocates & Legal Consultants. Diketuai Prof,Dr (jur) O.C Kaligis,SH,MH mantan pengacara ketua KPK Antasari kasus pembunuhan Saparuddin. Atas bantuan jasa ojek.

Temui Pengacara Senior

Tanpa, ragu-ragu dia (Zamri-red) memberanikan diri memasuki kantor. Apa adanya. Seraya menanyakan kepada staff penjaga kantor. Tentang kepastian kantor pengacara senior O.C Kaligis.  Lalu Zamri bertanyaberlogat melayu “ permisi, pagi pak, apa betul. !  pak O.C Kaligis berkantor disini pak, ? “ Iya, betul. Ada, apa pak.! Bapak, darimana dan keperluan apa “ ?    jawab staff penuh ramah.  Zamri menjawab,  “ begini, pak. Saya, Zamri dari Tarempa kepulauan Riau – Kepri. Mau, bertemu dengan, pak O.C.Kaligis. Untuk minta tolong membantu kasus adik saya. Bernama Syahirin (13) . Karena, kepala kemaluan adik saya terpotong. Oleh pihak RS Umum lapangan di Tarempa. Pak. Maksud, saya. Mau minta bantu dengan Bapak. Membela kasus hukum adik saya pak. “ terang Zamri.  Staff berkata, Oya, sambil menyodorkan berkas isian. “ Silahkan pak. Diisi dulu adminitrasinya. Nanti, saya sampaikan dengan Bapak. Kebetulan, Bapak lagi, rapat. Sebut, staff. Menjelang, beberapa menit, kemudian berlalu. Kata orang, Mujur tak dapat dirayu, malang tak dapat ditolak. Zamri bernasib baik. Melalui seorang wanita, Zamri dipersilahkan masuk. Menuju lantai II, tempat meeting pengacara terkenal itui bertemu langsung dengan O.C Kaligis. Di dampingi rekanan se-profesinya. Tanpa, diduga pengacara kondang itu. Rupanya, kaget bercampur haru mendengar kisah  Zam.  Bersedia untuk membantu membela kasus hukum adiknya, tanpa dibebani biaya satu senpun. Air mata Zamri berliang mendengar jawaban tersebut. Masih ada yang berhati baik untuk membela adiknya. Sementara, ditempat kelahiranya kurang mendapat tanggapan dari pemkab setempat. Ujar, kakak korban kepada para wartawan. Urusan adminitrasi  Zamri selaku pemberi kuasa menanda tangani  Surat Kuasa bernomor : 104/SK.IV/2011 kepada  Prof,Dr, O.C Kaligis,SH,MH, Dr,YB.Purwaning M Yanuar,SH,MCL,CN, Dr, Rico Pandeirot,SH,LL.M, Elza Rianty SH,MH, Ficky Fiher Achamd,SH, M Heru Mahyudi,SH, Slamet Yuono,SH, Ishemat Soeria Alam,SH, Budhi Satya Makmur, SH. Selaku penerima kuasa. 

Melalui surat Nomor : 1758/OCK.X/2011 tentang permohonan perlindungan hukum dari pengacara Prof,Dr, O.C Kaligis dan Associates kepada AKP. R. Sembiring Kapolsek Tarempa Kepulauan Anambas – Kepri.  Terhadap perkara a quo sebagaimana telah diuraikan oleh penyidik sektor Palmatak dalam SPPHP/03/VII/2011 Reskrim. Telah memenuhi unsur tindak pidana, karena kealpaanya menyebabkan luka-luka sebagaimana diatur dalam pasal 360 KUHP jo 361 dengan ancaman pidana penjara lima tahun.
Proses penyidikan masih berlanjut memasuki tahapan pemeriksaan ahli kesehatan/kedokteran. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami kepada penyidik. Memohon sekaligus menghimbau dengan sangat agar ahli tersebut. Sedianya akan dihadirkan penyidik terkait perkara a quo, seyogianya tidak sama sekali memiliki keterikatan Dinas Kesehatan Pemda Kepri maupun jajaran. Dengan harapan, hasil keterangan ahli dapat dilakukan secara objektif dan independen. Kemudian dalam surat tersebut, disampaikan bahwa sejak klien kami membuat laporan polisi No, Pol LP/VI/2011, tertanggal, 14 Juni 2011, hingga saat ini belum mendapat kepastian mengenai siapa saja tersangka yang harus bertanggungjawab dalam perkara a quo, padahal dalam SPPHP/03/VII/2011, tanggal, 23 Juli 2011 menyatakan secara tegas akan menyelesaikan penyidikan paling lambat 40 hari sejak penerbitan SPPHP. 
Berdasarkan uraian tersebut, kami mohon kepada penyidik. Untuk melakukan penahanan kepada tersangka, karena sudah memenuhi unsur KHUP jo, 361 KUHP. Mengembangkan penyidikan secara serius termasuk menghadirkan ahli yang obyektif dan independen guna menemukan penanggungjawab sekaligus pemberi perintah kepada tersangka dengan indikasi dapat dikenakan pasal 55 jo KUHP. Kemudian, melimpahkan berkas perkara ke Kejaksaan Negeri setempat dalam rangka terciptanya kepastian hukum bagi klien kami. Demikian isi petikan surat perlindungan hukum dari pengacara O.C Kaligis dari Jakarta. Disampaikan oleh Zamri kepada 

Hasil  Penyidikan  SP2HP Mapolres Natuna

Wiwit Ari Wibisono,SH,Sik Kasat Reskrim Mapolres Natuna melalui surat Nomor ; B/01/1/2012/Reskrim, pada tangal, 19 Januari 2012. Mengeluarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) kepada pihak keluarga korban M Syahirin di Anambas. Rujukan laporan kepolisian Nomor; LP/10/VI/2011,tanggal 14 Juni 2011, dugaan Tindak Pidana Barang siapa dengan kelalaian/kealpaanya menyebabkan orang lain meninggal dunia, luka berat dan kejahatan dilakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau pencaharian. Yang terjadi pada hari kamis (13/05/2010) di Rumah Sakit Lapangan Desa Payalaman Kecamatan Palmatak Kab. Kepulauan Anambas. Isi surat memberitahukan bahwa laporan/pengaduan korban telah diterima dan saat ini masih dalam proses pemeriksaan lanjutan terhadap saksi, jika diperlukan waktu perpanjangan penyelidikan/penyidikan akan diberitahukan lebih lanjut. Kendati demikian, proses penyelesaian kasus Syahirin masih panjang. Entah, sampai kapan, tak ada yang bisa menjawab. Namun, kita hanya bisa berharap kepastian hukum harus tetap ada. Untuk memberikan rasa kepercayaan masyarakat kepada penegak hukum di negeri ini.

Turut Prihatin

Abdul Haris,SH Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas. Menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang menimpa Syahirin adik kandung Zamri. Ungkapan Aris, melalui saluran seluler (27/01) ketika, dikonfirmasi wartawan beberapa minggu lalu. Saat berada di Batam dalam rangka rapat kerja bersama Gubernur Kepri. Haris menjelaskan, kasus ini terjadi di tahun 2010 lalu. Pada waktu itu jabatan wakil Bupati belum dilantik artinya masa itu adalah transisi. Ketika, itu saya menyarankan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekelurgaan. Memang, kita akui pernah terjadi putus komunikasi dengan pihak keluarga. Namun, upaya kita untuk membantu korban. Telah kita sampaikan. Bahwa pemda siap memberikan pengobatan secara maksimal. Pendidikan korbanpun kita tanggung sampai tingkat SMA. Langkah-langkah negoisasipun sudah sering kita lakukan melalui Dinas terkait. Tetapi, pihak keluarga korban tetap pada pendirian. Melanjutkan ke proses hukum, tentu kita hargai. 

Namun, yang terpenting adalah, tidak benar kalau dikatakan pemkab Anambas melalui Dinas Kesehatan tidak bertanggungjawab. Sekali lagi, itu tidak benar. Sebut, Haris. Nasi sudah menjadi bubur, penderitaan korban sudah terjadi. Lalu, bagaimana kasus ini bisa berakhir. tentu, masyarakat dapat mengikuti perkembangan kasus hingga tuntas. Sebagaimana yang kita harapkan. (Jimmy)

korban malpraktek sunat masal digelar di RS Lapangan Tarempa Kab Kep. Anambas menunggu kepastian hukum selama 2 tahun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar untuk memberikan tanggapan/ pertanyaan.