Salam Peduli ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Redaksi   |  Biro Daerah

Rabu, 09 Mei 2012

Bermanja Nafsu Cuma Rp. 50 Ribu Dikota Gerbang Salam

ilustrasi

“Layanan Plus Plus Wanita Penjaja Cinta yang dijadikan sebagai sarana mencari nafkah,dengan sasaran lelaki hidung belang dikota gerbang salam”

Pamekasan, Radar Nusantara

Meski jauh dari hingar bingar gemerlap kota pamekasan dan dengan kondisi apa adanya, tetapi lokalisasi yang terletak di desa ponteh kecamatan galis masih banyak didatangi pelanggan, usut punya usut ternyata kesukaan kaum lelaki singgah di “gubuk tua” tersebut karena tarifnya yang lumayan murah, sekali main bisa nego dengan harga Rp.30 ribu sampai Rp.50 ribu, plus bisa menikmati kopi susu di warung sekitar.

Keberadaan lokalisasi yang jauh dari perkotaan dengan model warung yang terkesan apa adanya,sejatinya sudah beroprasi sejak beberapa tahun silam, yang jelas keberadaannya dari dulu memang sudah rame, tapi seiring dengan perkembangan jaman lokalisasi tersebut semakin tersisihkan, ibaratnya “Hidup segan Mati tak mau” tapi sampai saat ini lokalisasi yang terletak di desa ponteh tersebut tetap eksis dan masih memiliki pelanggan tetap yang lumayan jumlahnya, juga beberapa tempat melakukan transaksi sambil leyeh leyeh,,

Jalan menuju lokalisasi tersebut sekitar 1 km arah barat pasar keppo butuh sekitar 25 menit dari kota pamekasan untuk menuju tempat ini “ya tempatnya memang seperti ini mas, maklum disini kan desa, beda dengan di Surabaya” kata warga setempat.

Tempat lokalisasi ini memang semi warung, karena sebelum para lelaki hidung belang melakukan transaksi terlebih dahulu mereka disuguhi minuman berupa kopi maupun teh, mungkin ini bertujuan agar tamu bisa lebih santai dan bisa memilih milih pasangannnya yang nanti apa bila sudah dapat yang cocok baik rupa maupun harga bisa langsung menuju tempat yang sudah disiapkan.

Hasil pantauan Radar Nusantara, biasanya setiap tamu yang datang tidak langsung melakukan kegiatan esek esek, kebanyakan mereka minum minum dulu diwarung yang memang sudah disiapkan di sekitar tempat tersebut, “ya biasanya minum kopi dulu atau ngetteh”

Layaknya lokalisasi pada umumnya tempat ini terlihat rame ketika hari libur, tak kurang dari tiga rumah yang bisa ditempati untuk menyalurkan hasrat dengan pasangannya dengan jumlah penghuni yang berbeda beda, ada yang masih ABG tapi juga ada yang wanita setengah tua alias STW yang sama sama memakai tarif irit.

Namun meskipun tempat ini merupakan lokalisasi pinggiran tapi masih tergolong rame untuk ukuran kota kecamatan, dan tarif untuk ngesex pun lumayan gak menguras kantong, tapi rata rata wanita ditempat tersebut merupakan wajah lama yang memang merupakan barang local yakni ada yang dari pamekasan sendiri tapi ada juga yang dari kota sumenep. Dan warung yang ada tarifnya juga sangat murah , pengunjung bisa sepuasnya minum diwarung tanpa harus merasa khawatir ada yang mengganggu.

Salah satu wanita penjaja cinta yang berhasil dikonfirmasi Koran ini sebut saja namanya melati (bukan nama sebenarnya.red) yang mengaku dari kota sumenep mengaku sudah lama bekerja di lokalisasi tersebut dia mengaku terjepit kebutuhan ekonomi keluarganya. Dan dia mengaku tidak bisa bekerja lain sebab dia tidak punya keahlian lain selain pekerjaan itu.“Yang jelas saya disini hanya bekerja mas, mencari hidup dan sesuap nasi untuk keluarga”.Ujarnya. (AR)

2 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar untuk memberikan tanggapan/ pertanyaan.