Salam Peduli ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Redaksi   |  Biro Daerah

Kamis, 21 Maret 2013

Tanam Jagung Program GP3K Padang Lawas Utara Tahun 2012 Dipertanyakan

Dok. 2012 : Penanaman Perdana Jagung oleh Bupati Paluta
Paluta, Radar Nusantara

Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) tingkat Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta) di sektor pertanian khususnya komoditas tanaman pangan dan hortikultura yang ditandai dengan penanaman perdana jagung secara bersama-sama oleh Bupati Padang Lawas Utara tahun 2012 yang lalu kini menjadi polemik.

Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) di Kabupaten Padanglawas Utara yang bekerja sama dengan PT. SHS (Sang hyang Seri) dan KTNA Paluta ini secara umum diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan produksi tanaman jagung demi menggalang ketahanan pangan Nasional seakan tinggal kenangan.

Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) ini menelan dana sekitar Rp 40 Milyar dengan lahan seluas 5000 Ha yang tersebar di seluruh wilayah Paluta seakan raib di telan bumi.

Kadistan Paluta ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya tidak memperoleh jawaban dan juga melalui pesan singkat (SMS) tidak juga diperoleh jawaban.

Penelusuran di lapangan oleh beberapa team media cetak dan LSM diperoleh keterangan melalui salah satu Kepala Desa di Kecamatan Padang Bolak Julu Kabupaten Padang Lawas Utara yang enggan namanya di publikasikan mengungkapkan, bahwa diduga kuat Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) ini merupakan ajang kongkalikong alias NKK (Nolong Kawan-Kawan) para stake holder yang terlibat dengan proyek ini. Di Kecamatan Padang Bolak Julu misalnya, proyek tersebut (Penanaman jagung_red) luasnya baru sekitar 400 Ha, tuturnya di hadapan wartawan saat di temui di Gunungtua baru-baru ini.

“Tidak ada satu lokasi pun yang diharapkan bisa meningkatkan produktifitas yang berdaya guna supaya tentunya dapat berhasil guna kepada peningkatan ekonomi rakyat,” sambung pak Kades saat ditanya “Apa kendala”, “Permainannya terlalu kasar sehingga tak dapat di sahuti oleh petani binaan,” jawabnya sambil berlalu meninggalkan Wartawan.

Terpisah seorang aktivis muda Paluta yang berinisial (SS) mengungkapkan, “Seingat saya program GP3K atau proyek penanaman jagung untuk Kabupaten Padang Lawas Utara seluas 5000 Ha dengan dana Rp 40 M ini adalah proyek kerja sama antara PT SHS (Sang Hyang Seri) dengan KTNA dan dinas terkait ini demi terwujudnya kelompok tani yang dinamis, kreatif, untuk dapat mengadopsi teknologi-teknologi baru dan inovasi dibidang pertanian.” Ungkapnya.

“Ohh...karena itu kali makanya ada mesin pupil jagung yang tak pernah berfungsi,” tambah seorang warga yang bermarga Harahap sambil tertawa.

“Ironis memang, tidak sesuai dengan yang diharapkan, seandainya program GP3K dengan luas 5000 Ha di Paluta ini benar-benar di laksanakan dengan sebaik-baiknya mungkin Kota Gunungtua akan kebanjiran jagung,kan sesuai dengan yang kita harapkan,” tambahnya kemudian.

Pada kesempatan lain Direktur Eksekutif LSM GEMPAR Sumut Aman Sudirman Harahap, didampingi Sekretarisnya Aluan Pasaribu, SH, MH mengatakan, “Kita sangat prihatin dan sungguh sangat tidak sepakat atas kejadian ini, kita akan berupaya mengumpulkan bukti serta menggiring kasus ini ke depan penegak hukum. Atas nama LSM GEMPAR Sumut saya mengajak seluruh aktivis di Paluta untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja agar kasus marjinalisasi hak-hak rakyat di Paluta ini dapat di minimalisir,” tegasnya serius sembari menunjukkan mimik kekesalan yang mendalam. Semoga...!!! (Team)

1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar untuk memberikan tanggapan/ pertanyaan.