Salam Peduli ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Redaksi   |  Biro Daerah

Selasa, 21 Mei 2013

Keluarga Korban Mal Praktek Pasien RSUD. Sultan Sulaiman Mengamuk





Pihak RSUD Sultan Sulaiman dan
keluarga Topan melakukan pertemuan
guna meminta pertanggung jawaban (14/5)

Sei Rampah, Radar Nusantara

Keluarga Topan Hasibuhan ,19, yang diduga menjadi korban mal praktek oleh tenaga medis RSUD. Sultan Sulaiman mendatangi rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai untuk meminta pertanggung jawabannya, Selasa (14/5).

Pertemuan yang berlangsung dua jam lebih itu dihadiri Direktur RSUD. Sultan Sulaiman, dr. Ahmad Chaidir dan sejumlah stafnya di lantai 2 dalam suasana yang cukup tegang. Pasalnya, keterangan yang disampaikan pihak RS tidak dapat diterima oleh keluarga korban. Mereka menilai penjelasan yang disampaikan hanya alasan belaka untuk membenarkan tindakan penanganan medis yang tidak becus      Kami meminta tanggung jawab kalian terhadap anak kami (Topan) yang saat ini telah di amputasi kedua kakinya karena kesalahan kalian.Bagaimana mungkin dan masuk akal itu bisa terjadi, hanya gara gara luka lecet akibat kecelakaan lalu lintas Topan di amputasi," ucap      Budi Hasibuan paman korban dengan berang. Mendengar tudingan dan hujatan dari keluarga korban, mulai dari ibu kandung dan kerabat lainnnya, Chaidir dan stafnya hanya terdiam seribu bahasa dan hanya memandang tatapan kosong kedepan rombongan keluarga mantan pasiennya tersebut.

Dengan tangis terisak isak, Maemunah ,45, ibu Topan sangat meratapi nasib yang ditanggung anaknya tersebut. Selain telah ditinggal suaminya atau menjadi janda kini dia kehilangan putra yang menjadi kebanggan dan harapannya.

Topan yang membantu kami untuk keperluan di rumah. Kini setelah kehilangan kedua kakinya bagaimana dia menjalani kehidupannya ke depan. Bagaimana ini jika menimpa kelarga kalian semua, semoga nasib yana sama akan menimpa kalian juga agar kalian tahu," ratap Maemunah sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.

Saya bayar seratus juta. Bagaimana kalau gantian saya amputasi kaki kalian juga," bentak Budi lagi. Ruangan rapat berukuran 6 kali  4 meter itu penuh sesak dan pengap dengan kehadiran aparat Polres Sergai, Satpam, Satpol PP dan wartawan yang menyaksikan pertemuan tersebut.

Selain Chaidir dikenal kikir duitnya, ternyata dia juga pelit bicara. Selama dua jam lebih keluarga korban mendesak untuk meminta pertanggung jawaban pihak RS, namun jawaban Chaidir itu ke itu juga, dia mengatakan bahwa apa yang dilakukan telah sesuai penanganannya. Itu telah sesuai penanganannya," ucap Chaidir. Mendengar penjelasan yang terus berulang kali, ibarat rekaman kaset, keluarga korban tensi emosinya terus meninggi. "Mana tanggung jawab kalian. Kok hanya menjawab itu ke itu saja nggak perlu penjelasan yang itu juga katakan ya atau tidak mau bertanggung jawab," bentak Budi sambil telunjuknya mengarah ke wajah Chaidir yang tampak pucat pasi.      Karena tidak puas dengan penjelasan pihak RS akhirnya mereka meninggalkan ruangan sambil menuruni tangga sembari berteriak teriak menghujat pihak RS. "Kalian dokter binatang..! dan ini RS busuuuk.. ! teriak mereka dan keluarganya.Menurut Budi, mereka akan mengadukan dugaan mal praktek tersebut ke Polres Sergai agar ditangani secara hukum.

Sekedar mengingatkan kasus ini bermula saat Topan mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai sepeda motor di Jalinsum KM 57-58, Dusun II, Desa Firdaus, Kecamatan Sei Rampah, pada Jum'at (12/4) sekira pukul 20:00 WIB.

Akibat kecelakaan itu kedua kaki Topan mengalami luka dan mendapat 3 jahitan, hingga di fonis dokter untuk rawat inap. Namun selama 11 hari Topan yang di rawat di ruang Melur RS. Sultan Sulaiman Sergai itu tidak kunjung sembuh, malah luka di dua kakinya semakin parah dan membusuk.

Tak sanggup melihat anaknya menderita dan tidak kunjung sembuh, lantas putra ke 2 dari 4 bersaudara itu pun di bawa pulang kerumah oleh keluarganya. Selama dua hari di rumah, keluarga Topan pun membawa pria tamatan SMA Swasta Sei Rampah ini ke RS. Methodist Jl. Tamrin, Medan tepatnya Kamis (25/4). Petaka kemudian dimulai, ketika dirawat, dokter rumah sakit kemudian menyatakan bahwa kedua kaki Topan yang masih tamat sekolah itu, untuk segera diamputasi karena mengalami infeksi yang akan menjalar kebagian tubuh lainnya.(BN)




8 komentar:

  1. pada infeksi tahap gawat ini adalah keputusan yang berat. membiarkan infeksi menjalar ke bagian tubuh lain atau membuangnya. ini memang dilema.

    BalasHapus
  2. "Tak sanggup melihat anaknya menderita dan tidak kunjung sembuh, lantas putra ke 2 dari 4 bersaudara itu pun di bawa pulang kerumah oleh keluarganya."

    kalau sudah ada pernyataan itu kan berarti pulang nya , ATAS KEMAUAN SENDIRI dan sudah tanda tangan kan ?

    klo di amputasi , kan udah inform consent juga ke pasiennya bagaimana pastinya , kalau dia sudah tanda tangan setuju berarti tak bisa di salahkan.

    BalasHapus
  3. "Selain Chaidir dikenal kikir duitnya, ternyata dia juga pelit bicara." hati-hati dalam menulis Pak, ini sudah pembunuhan karakter namanya.

    BalasHapus
  4. Kalimatnya saja berantakan begitu, yang menulis ini berapa nilai bahasa Indonesianya dulu?

    BalasHapus
  5. saya turut berduka untuk keluarga Topan

    semoga MEDIA tidak menambah-nambah atau mengurangi kejadian sebenarnya.. wallahualam..

    BalasHapus
  6. Masalahnya dimana si? Smwa sudah di lakuakan sesuai prosedur, kadang2 wartawan ni sok tau tentang ilmu kedokteran, jadi mereka membesar-besarkan kasus yang mereka juga gak ngerti mengenai ilmu kedokteran.. tolong media belajar dulu kedokteran 4 tahun S.ked 2 tahun koas. jangan ilmu Media ni cuma ilmu internet..

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  8. Dari sini pun tampak, penulis memihak kepada satu pihak, beritanya jadi ga fakta lagi, ckck

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan tinggalkan komentar untuk memberikan tanggapan/ pertanyaan.