5 Tahun Perjalanan Tanpa Arah

OLEH SULTHAN ALFARABY, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh (Foto: Sulthan Alfaraby, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh, Mah...


OLEH SULTHAN ALFARABY, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh

(Foto: Sulthan Alfaraby, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh, Mahasiswa dan Pegiat Sosial)

SEBELUMNYA perkenalkan, nama lengkap penulis adalah Muhammad Sulthan Alfaraby. Penulis awalnya berperawakan cupu serta kurang percaya diri atau bisa dikatakan sebagai pemalu berat. Hobi penulis sangatlah banyak; Membaca buku sejarah, menggambar, membuat dan bermain musik, mengedit video dan beberapa hal yang berbau kreatifitas lainnya. Penulis lahir di pantai ujung barat Aceh, yaitu Kota Meulaboh Kecamatan Johan Kabupaten Aceh Barat dan tumbuh besar di Desa Paya Lumpat Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat. Penulis juga merupakan sosok yang menyukai corak pada bendera “Bintang Bulan” Aceh, yaitu garis merah putih dan hitam. Maka tak heran, jika konten-konten maupun desain grafis yang penulis buat, lebih mengarah kepada corak bendera “Bintang Bulan” Aceh tersebut. Penulis juga berpesan, semoga dengan diperingatinya 15 Tahun Perdamaian Aceh dan Republik Indonesia tahun 2020 ini, bisa menghasilkan nuansa sejuk untuk Aceh ke depannya. Kita selaku pemuda, juga mendukung penuh langkah-langkah kongrit dari hasil perdamaian ini, demi masa depan Aceh yang lebih baik ke depannya. Panjang umur hal-hal baik!

Mari kita kembali berbicara soal “5 Tahun Perjalanan Tanpa Arah”, sebenarnya hal itu menilik dari kejadian penulis beberapa tahun lalu. Yang di mana, penulis memulai langkah awal untuk berkarya dan berjuang tanpa memikirkan arah sebelumnya atau bisa disebut sebagai “Keberuntungan”, karena kejadian-kejadian dalam kisah penulis ini merupakan hal yang jauh dari dugaan sebelumnya. Kisah penulis dimulai dari pagi hari yang cerah di akhir bulan Desember 2012. Hal yang cukup mengejutkan terjadi, yaitu isu "Hari Kiamat" yang sudah lama digaung-gaungkan sejak jauh-jauh hari sebelumnya menjadi perbincangan hangat netizen di dunia maya. Bagaimana tidak, isu tersebut sudah sangat lama merebak luas dan menggegerkan dunia karena “Hari Kiamat” dikabarkan akan terjadi pada akhir bulan Desember tahun 2012. Faktanya pada hari itu, keadaan normal-normal saja dan penulis sempatkan untuk bernostalgia menonton beberapa film yang menggambarkan keadaan “Hari Kiamat” yang diklaim akan terjadi pada tahun 2012. Namun, meskipun begitu penulis tetap merasa takut dan sisi positifnya juga tentu kita menjadi sadar akan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan untuk segera meminta ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada tahun 2012 juga, merupakan tahun paling bersejarah di dalam kehidupan penulis. Yang di mana pada masa itu, penulis juga masih bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) atau setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penulis pada masa itu mulai mencoba untuk terjun langsung ke dalam dunia musik yang bergenre "Hip Hop", karena dorongan maupun terinspirasi dari orang-orang lain yang sudah dahulu terjun untuk segera ikut berkiprah dan berkarya. Ya, pembaca pasti mengetahui bagaimana rasanya ingin menjadi “Orang terkenal” atau mengikuti gaya sang tokoh panutan dalam dunia entertainment. Penulis sebelumnya juga banyak mendengarkan lagu-lagu Hip Hop dari berbagai musisi luar negeri maupun dalam negeri untuk menjadikan mereka sebagai referensi dalam berkarya. Hal yang paling penulis sukai adalah mendengarkan musik Hip Hop yang digaungkan oleh Rapper (Sebutan untuk musisi Hip Hop) di Aceh, Hip Hop Nad Syndicate adalah salah satunya dan paling terkenal pada masa itu. Alasan penulis menyukai para Rapper di Aceh adalah karena nuansa musik mereka lebih menggambarkan “Keacehan” dan “Kedaerahan” dibandingkan Rapper lainnya. Meskipun tanpa sepengetahuan penulis, padahal banyak juga Rapper lainnya yang berada di luar Aceh juga menggaungkan musik dengan nuansa “Kedaerahan” mereka, misalnya Jogja Hip Hop Foundation, namun penulis tidak mengetahui akan hal tersebut pada masa itu.

Nah, kembali lagi soal keinginan dan ambisi penulis untuk mulai berkarya di tahun 2012, meskipun dengan tampang cupu dan pemalu. Dengan bermodalkan menonton video di Youtube, penulis mulai mencari ilmu secara otodidak dan mendownload beberapa software penunjang untuk menciptakan musik Hip Hop yang akan digunakan ketika hendak dinyanyikan atau yang lebih dikenal dengan “Ngerap”. Seminggu penulis mencoba untuk mencari referensi di Youtube dan juga bermodalkan komputer di Warung Internet (Warnet), yang di mana pada saat itu penulis belum mempunyai perangkat yang signifikan dan terpaksa harus menggunakan jasa Warnet. Meskipun bermodalkan seadanya dan juga beberapa kali bolos sekolah akibat ambisi untuk berkarya (Jangan ditiru), penulis akhirnya berhasil membuat sebuah instrumen musik Hip Hop sederhana meskipun sedikit meniru dan memodifikasi dari instrumen musik orang lain. Penulis mulai merekam suara melalui Handphone (HP) di rumah dan kemudian kembali ke Warnet untuk mengedit menjadi musik Hip Hop. Setelah selesai mengedit musik dan jadilah lagu yang tak berjudul serta bertema cinta serta dengan format “MP3”, penulis segera mengupload karya tersebut ke situs internet yang paling eksis pada saat itu, yaitu Reverbnation. Alhasil, penulis yang hobi bermain Facebook (FB) ini juga menyebarkan secara membabi buta hasil karya tersebut ke publik. Namun, apalah daya penulis ketika melihat respon daripada netizen yang menghujat penulis dan mengatakan bahwa lagu tersebut sangatlah buruk. Penulis menjadi sedikit terpuruk dan mencoba untuk belajar lebih keras lagi, sampai-sampai kegiatan sekolah menjadi terbengkalai. Di dunia maya, penulis juga semakin berinisiatif belajar dari musik-musik orang lain yang sudah populer dan membandingkan karya mereka dengan karya penulis. Ternyata, perbandingan karya penulis dengan mereka ibarat langit dan bumi, hahaha. Namun, sisi positifnya adalah penulis pada saat itu tetap pantang menyerah dan terus semangat untuk berkarya. Usai beribadah, penulis selalu berdoa dan berharap agar penulis bisa menjadi musisi Hip Hop paling terkenal di Aceh. Lucu juga kalau diingat-ingat. Namun, hal tersebut merupakan motivasi kuat bagi penulis untuk bisa terus belajar tanpa mengenal kata menyerah.

Menjadi "Introvert"

Tahun 2013 pun mulai datang, kala itu musik Hip Hop menjadi trend yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan anak muda. Dan juga, mulai tercium aroma “Kesuksesan” bagi penulis yang dari mana arah datangnya. Pada hari itu, sekitar hari selasa di bulan Mei 2013, penulis mendaftar di salah satu grup Hip Hop yang dicetus oleh salah satu Rapper terkenal di Kota Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Penulis banyak belajar dari grup tersebut. Alhamdulillah, karya demi karya sudah mengalami peningkatan, meskipun hanya sebesar 10% dari sebelumnya, hahaha. Untuk membuat sebuah karya, penulis dipinjamkan fasilitas oleh grup Hip Hop tersebut, seperti komputer dan alat-alat permusikan lainnya. “Alhamdulillah, semua itu merupakan bantuan yang tak terduga dan harus penulis manfaatkan”, pikir penulis. Namun, sebulan berlanjut dan terjadilah permasalahan pribadi dalam grup tersebut, akhirnya penulis memutuskan untuk keluar dan mencoba untuk mendirikan sebuah grup sendiri pada bulan Juni 2013 bersama dengan teman-teman yang sepemikiran di sekolah. Kami membuat karya pertama dari hasil belajar secara “Otodidak”, dan terciptalah satu karya lagi dan kemudian mendapatkan hujatan dari berbagai pihak. Bahkan, ratusan siswa di sekolah atau bisa dikatakan secara kasar "Seluruh Siswa di Sekolah" juga ikut menghujat , karena karya kami masih sangat jelek. Penulis pada saat itu sangat tertekan dan ingin sekali mengakhiri semua ini. Orang-orang juga banyak menyebut penulis sebagai “Orang gila” yang terlalu memaksakan diri dalam hal berkarya. Penulis yang mempunyai mental 'Tempe', akhinya kewalahan menanggapi respon negatif dari orang-orang. Apalagi, di luar sekolah juga banyak juga grup-grup Hip Hop lokal terkenal yang menyindir kami lewat lagu. Mereka menilai bahwa kami adalah pecundang yang ikut-ikutan berkarya tanpa kualitas.

Dengan psikis yang semakin tertekan dan juga jerawat penulis juga semakin “Menjadi-jadi” tumbuh di wajah, dikarenakan pada tahun 2013 itu juga merupakan awal kepuberan penulis dari remaja menuju dewasa. Ya, begitulah sekiranya. Jerawat penulis tumbuh hampir memenuhi wajah dan penulis semakin stres dengan hujatan seluruh siswa di sekolah dan orang-orang di sekitar. Sudah kurang tampan, ditambah dengan tumbuhnya “Cobaan” jerawat ini, maka penulis putuskan untuk tidak keluar dari rumah selama setahun. Setahun? Ya, setahun! Lalu, bagaimana penulis bersekolah? Hahaha, penulis tetap pergi ke sekolah, namun tidak pernah keluar dari kelas dikarenakan psikis penulis tertekan akibat hujatan orang-orang atas diri penulis, apalagi juga sudah dianggap sebagai “Rapper Gadungan”. Penulis pernah masuk ke sekolah diam-diam melewati sela-sela dinding yang sempit (Tidak pernah melewati pintu utama), karena penulis tidak ingin terlihat oleh orang lain. Hal ini disebabkan karena penulis malu dengan keadaan diri penulis yang penuh jerawat di wajah pada saat itu. Ketika pulang sekolah, penulis juga nyaris tidak pernah keluar dari rumah kala itu akibat tekanan psikis yang berkepanjangan. Penulis benar-benar ingin segera mengakhiri hidup dan selalu berharap di saat tidur pada malam hari “Semoga malam ini menjadi malam yang panjang”, ujar penulis dalam hati ketika menjelang tidur pada malam hari. Sampai segitunya penulis tidak ingin menjalani hari-hari yang penuh dengan tekanan. Itu adalah cobaan terberat dalam hidup yang harus penulis terima. Untuk sekedar diketahui lagi, penulis juga merupakan tipe orang yang sangat pemalu pada saat itu, yang di mana melihat mata perempuan saja penulis tidak mau dan memilih untuk tertunduk. Apalagi, jika disuruh mempresentasikan tugas sekolah di depan teman-teman, bisa-bisa penulis pingsan di tempat, apalagi ditambah dengan wajah yang penuh dengan jerawat. Alhasil, penulis kemudian memutuskan untuk menjadi “Introvert” dan menutup diri dari publik selama setahun. Ini benar-benar membuat penulis sangat terpuruk!

Memberanikan Diri untuk Berkarya Kembali

Setahun kemudian terlewati, yaitu tahun 2014. Alhamdulillah, berkat dukungan dari orang tua dan juga rajin merawat wajah, akhirnya jerawat penulis mulai hilang. Sesuatu yang sangat penulis harapkan tersebut akhirnya terjadi, yaitu melepas status “Introvert” pada diri penulis dan ingin kembali kepada kehidupan normal. Penulis juga masuk ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) atau setingkat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2014 ini. Penulis mengira, bahwa ketika sudah menjadi siswa MAN, maka kehidupan penulis akan aman dan membaik, ternyata tidak! Nama penulis yang sudah dikenal sebagai “Rapper Pecundang” sejak MTsN, kini mulai dicari-cari oleh ‘Preman’ di sekolah tersebut. Penulis sering dibully dan dipaksa untuk bernyanyi di lapangan ketika itu serta dipermalukan. Alhasil, penulis menjadi tertekan kembali dan mengambil jalan pintas yang sekaligus sangat bodoh, yaitu membayar pimpinan preman tersebut sebesar Rp. 50.000 per minggu dengan tujuan agar penulis tidak diganggu lagi oleh mereka. Penulis terpaksa jarang jajan selama setahun, karena kondisi keuangan yang menipis akibat digunakan untuk membayar ‘Jatah Preman’.

Dalam kondisi seperti ini, penulis tidak berputus asa dan tetap melanjutkan niat awal yaitu berkarya. Dengan wajah yang sudah ‘Kinclong’ meskipun tak tampan, hahaha, bisa menjadi modal awal bagi penulis untuk bisa meluruskan niat agar menjadi “Rapper” terkenal. Lagu demi lagu mulai penulis ciptakan beserta video klip sederhana dan terus mengasah Skill, banyak uang yang terkuras pada masa itu. Namun, masa bodoh! Penulis akan tetap mewujudkan mimpi yang sudah penulis bangun dari nol. Perlahan tapi pasti, dari panggung ke panggung penulis naiki dan belajar untuk meningkatkan rasa percaya diri meskipun agak sedikit canggung. Mulai dari acara di dalam kota, sampai dengan acara yang berada di luar kota. Alhamdulillah, penulis mendapatkan banyak kenalan dan juga ilmu yang didapat agar  bisa menciptakan karya yang berkualitas sembari mengasak Skill dan mental untuk terus berani ke depannya menghadapi respon publik. Penulis mulai menyadari, bahwa “Passion” penulis bukanlah menciptakan lagu yang bertemakan “Cinta”, melainkan bertema “Gangsta”. Gangsta adalah sebuah aliran lagu yang mengarah kepada lirik-lirik dan nada yang keras dan juga tajam. Tepat pada tahun 2015, penulis juga pernah mengadakan kegiatan musik dan juga diajak untuk bergabung ke salah satu aliansi Hip Hop yang terdiri dari orang-orang hebat di dalamnya. Impian penulis untuk bisa berkarya pada saat itu bisa dibilang sangatlah sukses dan kesempatan juga sudah terbuka sangat lebar, bahkan penulis juga membuka usaha rekaman dan juga jasa pembuatan video. Hasil dari usaha tersebut bisa dibilang lumayan, meskipun belum signifikan untuk menunjang seluruh kebutuhan kehidupan sehari-hari. Bersamaan jejak perjalanan ini, penulis juga pernah mendapatkan kesempatan On Air di salah satu radio ternama untuk berbagi pengalaman hidup. Pada tahun yang sama pula, terjadi ‘Konflik Hip Hop’ antar kota, yang di mana musisi saling serang menyerang lewat karya. Penulis juga ikut berkecimpung di dalamnya. Dan lucunya, kini kami sekarang sudah menjadi teman dekat, hahaha, sungguh kekonyolan yang miris untuk diingat kembali. Setelah beberapa waktu yang lumayan lama dari hasil belajar manggung, maka jiwa penulis sudah semakin terisi oleh rasa percaya diri dan lebih berani tampil di publik. Ternyata, dari hinaan dan cemoohan orang-orang bisa membuat kita tetap tegar dengan kerasnya kehidupan dan juga bisa membuat kita “Kebal” untuk tetap bisa melangkah ke depannya. Oleh karena itu, penulis berharap kepada para pembaca untuk tidak menyerah atau berputus asa dalam menggapai impiannya. Ketika kita sudah berusaha berjuang kemudian gagal, maka kita akan mendapatkan hasil yang nyata, yaitu hikmah besar. Namun, ketika kita tidak bergerak sama sekali akibat takut akan kegagalan, maka kita berarti sudah ditaklukkan oleh rasa “Pengecut” yang ada di dalam diri kita, sehingga hal tersebut akan menghambat kita untuk maju. Mari semangat untuk mewujudkan mimpi kita sendiri atau orang lain akan mempekerjakan kita untuk membangun mimpi mereka!

Dari Barat Mencoba untuk ‘Taklukkan’ Kutaraja

Beberapa tahun kemudian terlewati, penulis sudah mulai tidak menggeluti dunia Hip Hop, dikarenakan adanya suatu kesibukan mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian Nasional (UN) tahun 2017. tepat pada awal tahun 2017 juga, penulis mendaftarkan diri ke program Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Alhamdulillah dan tak disangka-sangka, penulis berhasil lolos di jurusan biologi salah satu kampus negeri ternama di Kota Banda Aceh. Hal tersebut merupakan sebuah kebanggaan sekaligus keharuan yang luar biasa. Sontak, penulis menyegerakan untuk berangkat ke Kota Banda Aceh atau yang dulunya dikenal sebagai “Kutaraja” pada masa Kesultanan. Impian untuk berkuliah di luar kota sudah penulis impi-impikan sejak dulu, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas diri serta mencari relasi maupun ilmu yang lebih besar ke depan. Apalagi, kini penulis sudah mempunyai bekal untuk percaya diri akibat telah lama ‘Dihantam’ oleh beberapa cobaan selama berproses di dunia Hip Hop silam. Setibanya di Kota Banda Aceh, penulis bingung harus ke mana, dikarenakan penulis tidak punya saudara. Ada beberapa saudara, namun sangatlah membenci keluarga penulis karena suatu dan lain hal, sehingga penulis menganggap bahwa pada saat itu  memang tidak ada seorang pun kenalan di Kota Banda Aceh yang bisa diajak untuk bercerita dan berbagi pemikiran. Penulis pun segera menghubungi salah seorang sahabat penulis yang juga baru tiba di Kota Banda Aceh serta lulus di kampus yang sama dan kemudian beliau mengajak penulis untuk tinggal bersama di rumahnya yang beralamat di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh. Penulis pernah mengatakan kepada beliau “Kita selaku anak muda Aceh Barat, jangan pulang sebelum kita ‘Menakukkan’ Kutaraja”, begitu ucap penulis. Keesokan harinya, penulis dan beliau segera mendaftarkan ulang ke kampus. Sialnya, penulis pada saat itu nyaris tidak bisa menjadi calon mahasiswa baru dikarenakan ada sebuah berkas yang hilang. Namun akhirnya, penulis diberikan dispensasi waktu oleh petugas saat itu untuk melengkapi berkas yang hilang tersebut dan akhirnya penulis resmi menjadi calon mahasiswa baru. Huh, syukurlah!

Hari pertama berkuliah sangatlah mengasyikkan, hari itu penulis mengenakan kemeja merah berkotak-kotak dan sepatu merek “Vans” berwarna hitam putih andalan sejuta anak muda. Saat tiba di ruangan kuliah dengan penuh rasa percaya diri, sontak! penulis terkejut, yang di mana isinya adalah kaum perempuan dan nyaris tidak ada laki-laki. Wajar, mungkin karena jurusan biologi kurang diminati oleh laki-laki. Apalagi, jurusan tersebut merupakan jurusan yang baru diresmikan beberapa waktu silam. "Mantap juga nih, banyak cewek", pikir penulis dengan nakalnya. "Tapi, aku juga merasa jadi cewek di jurusan ini dan terpaksa harus mencari topik pembicaraan yang sesuai tiap hari. Ghibah, misalnya. Kalau tidak, pasti gak punya kawan", canda penulis di dalam hati. Hari demi hari pun terlewati, dan permasalahan "Kelas yang Dipenuhi Perempuan" tadi bukanlah sebuah masalah yang besar lagi dan penulis juga sudah semakin terbiasa dengan keadaan ini. Penulis selama berkuliah di tahun pertama, juga banyak mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di kampus. Timbul niat penulis pada saat itu, yang di mana penulis ingin memperjuangkan hak-hak serta fasilitas yang disediakan oleh kampus untuk mahasiswa yang bisa dibilang masih “Kurang Memadai” pada saat itu. Untuk bisa merealisasikan niat tersebut, maka penulis harus menjadi salah satu pemegang ‘Kendali Kekuasaan’ di ranah kampus, sesuai dengan kalimat beberapa waktu lalu yang pernah terlontarkan, yaitu “Tidak akan pulang, sebelum ‘menaklukkan’ Kutaraja”. Kalimat 'Menaklukkan Kutaraja", merupakan kalimat motivasi andalan bagi penulis. Yang di mana maknanya adalah kita selaku anak muda harus bisa mempunyai kontribusi yang besar demi "Gerakan Perubahan" yang ingin kita gagas ke depannya di tempat penulis berkecimpung saat ini. Tibalah saat masa pemilihan serentak ketua baru Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP), penulis maju sebagai salah satu kandidat termuda di fakultas tersebut. Awalnya, penulis mendapat ancaman dari berbagai pihak akibat usia penulis masih sangat muda dan “Belum Pantas” untuk mencalonkan menurut “Budaya” perpolitikan leting pada saat itu. Namun, karena peraturan yang dibuat untuk naik sebagai calon ketua baru HMP sudah penulis penuhi secara sah, maka penulis memberanikan diri untuk terjun langsung ke dalam dunia “Perpolitikan” kampus dan meminta dukungan dari beberapa senior yang sependapat pada saat itu.

Akhirnya, kontestasi pun dimulai dan penulis memutuskan untuk mengalah dan turun setingkat serta mendapatkan jabatan sebagai calon wakil ketua. Ini adalah strategi politik yang sudah tersusun dari jauh-jauh hari. Jika penulis memaksa untuk menjadi calon ketua, maka akan terjadi hal-hal yang menurut penulis akan berakibat fatal untuk kepengurusan ke depannya. Oleh karena itu, penulis mulai memainkan 'Manuver' strategi politik pada saat itu. Hasilnya, penulis berhasil menjabat sebagai wakil ketua HMP periode 2019-2020 pada saat itu sekaligus pembuat kerangka visi misi untuk dijalankan ke depannya. Meskipun belum dilantik, namun penulis memulai langkah untuk beraudiensi dengan pimpinan kampus untuk mengadvokasi segala permasalahan mahasiswa. Audiensi ini juga dilakukan bersama dengan seluruh pimpinan Ormawa. Hal yang ingin diadvokasikan adalah persoalan pendingin ruangan perkuliahan yang tidak ada, sekretariat yang tidak memadai dan juga fasilitas lainnya untuk menunjang pembelajaran mahasiswa.  Padahal, Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa di fakultas sangatlah mahal. Beberapa bulan mengadvokasi namun tidak timbul hasil, penulis menyarankan untuk melakukan aksi demonstrasi di kampus, namun tidak digubris dan malah dikatakan oleh salah satu mahasiswa bahwa penulis hanya ingin “Mencari Panggung” semata. Sontak, penulis merasa sangat kecewa dengan kalimat yang terlontarkan oleh salah satu mahasiswa tersebut. Bagaimana mungkin penulis ingin “Mencari Panggung”, sedangkan permasalahan yang ingin diadvokasikan sudah jelas di depan mata dan juga tak ada hasil yang nyata, sehingga aksi demonstrasi merupakan jalan keluar terakhir yang harus dilakukan.

Beberapa minggu kemudian, penulis mendapatkan pesan melalui WhatsApp oleh salah satu pimpinan Ormawa untuk segera menghadiri rapat konsolidasi yang digagasnya. Beliau pernah mengatakan "Saya salut, kamu paling militan dari yang lain kalau soal memperjuangkan hak mahasiswa. Nanti jangan lupa orasi dan terus jaga semangat ini", ujarnya. Mungkin, karena alasan itu beliau mengajak saya untuk menghadiri rapat tersebut. Rapat konsolidasi ini ternyata berhubungan erat dengan aksi yang juga sudah lama penulis sarankan beberapa waktu silam. Aksi pun dilakukan pada esok harinya yang bertitik kumpul di lapangan kampus. Aksi tersebut pun terjalankan, dan seminggu kemudian sebagian besar tuntutan sudah direalisasikan oleh pihak kampus. Mungkin, hal ini karena kampus mendapatkan tekanan moral. Apalagi, dalam aksi demonstrasi tersebut juga diliput oleh banyak media. Uniknya, yang pernah mengatakan kepada penulis bahwa “Aksi demonstrasi hanya cari panggung”, kini beliau terdiam seribu bahasa. Di balik ini, penulis ingin berpesan kepada para pembaca, bahwa setiap usaha yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia selama kita berada di dalam track kebaikan. Apalagi, perjuangan ini sudah berlangsung selama berbulan-bulan dan juga menyangkut kepentingan banyak mahasiswa. Sudah sepatutnya kita selaku “Pemangku Jabatan” di ranah kampus, harus ikut berkecimpung aktif dan kontributif serta kritis terhadap isu-isu di sekitar kita. Panjang umur perjuangan! Karena kesia-siaan hanya akan terjadi ketika kita tidak mau untuk bergerak dan memilih untuk menjatuhkan orang lain yang mempunyai niat untuk berbuat kebaikan

Berbicara soal "Aktif", selama di kampus penulis juga banyak berkontribusi di berbagai panggung perlombaan yang diadakan oleh mahasiswa. Mulai dari berorasi, sampai dengan membaca puisi yang bertemakan perjuangan. Terkadang, sesekali juga mendapat undangan untuk berorasi atau membaca puisi di salah satu acara kampus atau sekedar 'Mengacau' di forum-forum diskusi publik. Hal ini dimaksudkan, agar forum diskusi tersebut menjadi 'Panas' dan hidup, Hahaha. Sebuah kehormatan juga bagi penulis, ketika mendapatkan ‘Mandat’ untuk bisa berkontribusi di kegiatan-kegiatan tersebut. Padahal jika menilik dari masa lalu, penulis merupakan seorang yang pemalu. Ketika orang-orang mempercayakan kepada penulis untuk “Berbicara”, maka hal tersebut merupakan sebuah kesuksesan bagi diri penulis. Berarti, penulis telah berhasil atau sukses mengalahkan rasa takut yang menyelinap di dalam diri selama ini. Di luar kampus, penulis juga kerap mengikuti aksi demonstrasi dan sering mendapatkan tugas untuk berorasi. Jika berbicara soal orasi, sebenarnya penulis juga belajar secara otodidak, yang di mana hal tersebut penulis dapatkan ketika melihat senior-senior yang kerap berorasi di jalanan sebelumnya dan hal tersebut menjadi inspirasi besar dan harus diikuti oleh seluruh mahasiswa untuk bisa membangun jiwa kritis dan keberanian dalam hal berbicara ke depannya. Sekali lagi, jangan pernah mengecewakan orang-orang dan terus mengambil peran dalam perjuangan. Jika bukan sekarang, lalu kapan lagi?

Dilema Amanah Orang Tua dan Kusutnya ‘Benang’ Pendidikan Kita

Di balik itu semua, penulis sempat merasa dilema oleh amanah orang tua, yaitu harus segera lulus dan menjadi seorang sarjana. Hal tersebut bertujuan agar penulis bisa mencari pekerjaan yang sesuai. Menurut penulis, di zaman sekarang untuk mengandalkan modal “Ijazah” semata adalah hal yang hampir mustahil. Orang-orang kini berkuliah hanya karena mengharapkan pekerjaan di masa depan. Mereka tidak memikirkan, di zaman sekarang lowongan pekerjaan sudah semakin menipis. Tentunya, penulis segera ‘Memutar Otak’ di sepanjang malam agar bisa menjadi orang yang bisa membuka lowongan pekerjaan bagi orang lain dan juga punya relasi untuk melawan “Arus Kontestasi” di dunia pekerjaan nanti. “Hah? Membuka lowongan pekerjaan bagi orang lain, sedangkan diri sendiri belum punya pekerjaan?”, mungkin kalian akan bertanya-tanya seperti itu. Tentu saja, penulis pun segera memutuskan untuk membuka kembali usaha perekaman dan pengeditan video di Kota Banda Aceh yang dikelola oleh beberapa anggota tim. Hal ini dimaksudkan dengan mengoptimalkan bakat-bakat anak muda untuk bisa menciptakan penghasilan pada saat itu. “Jangan hanya sekedar hobi, namun dari hobi kita ini apa yang bisa kita hasilkan selain karya?”, ujar penulis dengan semangat.

Pada saat itu, modal untuk membeli kamera, penulis beranikan untuk meminta pertolongan kepada orang tua. Alhamdulillah, usaha tersebut berjalan lancar dan menghasilkan uang yang lumayan. Kemudian waktu semakin berjalan, usaha tersebut mengalami keterpurukan dan penulis menutup usaha tersebut. Penulis merasa putus asa dan juga malu kepada orang tua. Namun, beberapa usaha terus penulis lakoni dan tidak menyerah sampai di situ saja, yaitu usaha reseller produk orang lain, menjadi wartawan (kontibutor) lepas, fotografer lepas, ojek online sampai yang terakhir penulis ingin membuka sebuah usaha minuman. Namun, hal tersebut terhalang oleh keterbatasan modal dan juga masih malu kepada orang tua akibat gagalnya usaha yang pertama. Kemudian, penulis terinspirasi dari berbagai akun Instagram yang menyediakan konten menarik dan mereka mendapatkan penghasilan lewat iklan. Sontak! Penulis yang sudah mulai merasa dilema  dengan "Beban Dunia Kedewasaan" ini, segera membuat sebuah akun Instagram yang berisi konten-konten terkait kemahasiswaan. Alhamdulillah, kini akun Instagram tersebut mempunyai puluhan ribu pengikut dan mulai membuka jasa periklanan seperti yang diharapkan. Sampai saat ini, usaha tersebut sudah banyak merekrut tim dari kalangan mahasiswa untuk bisa bekerja sama dalam mencari iklan. Penulis sangat bersyukur, kini melalui usaha tersebut banyak hal dan kegiatan yang sudah terdanai, meskipun usaha lewat media sosial tersebut terlihat sangat sepele. Namun, hal tersebut jangan lagi dianggap remeh, karena jika kita bisa memanfaatkan potensi media sosial dengan bijak, apalagi di zaman era 4.0 ini, maka tidak menutup kemungkinan kita bisa sukses dan berpeluang memanen buah manis dari 'Ladang Rupiah' di media sosial.

Salah satu contoh 'Ladang Rupiah' di media sosial adalah jasa periklanan, yang di mana produk-produk akan terus bermunculan, dan tentunya untuk menjual produk haruslah melakukan promosi atau iklan agar calon pembeli tertarik. Nah, melalui jasa iklan ini sangatlah signifikan jika kita lakoni di zaman sekarang, mengingat semua penjual juga sangat membutuhkan iklan untuk bisa melariskan produknya. Semua itu tergantung kepada kita, apakah kita akan terus berusaha atau malah memilih untuk berputus asa dengan fasilitas yang “Serba Ada” di zaman sekarang ini. Sangat rugi, jika kita tidak bisa memanfaatkan potensi-potensi dan teknologi yang ada pada zaman yang serba digital ini. Alhamdulillah, usaha penulis ini masih terus berlanjut dan berkembang. Membuka usaha sendiri juga merupakan sebagai usaha untuk menangani kekusutan ‘Benang” pendidikan kita, yang di mana setiap orang mempunyai paradigma untuk berlomba-lomba agar bisa lulus menjadi sarjana tanpa berpikir untuk berinovasi agar terciptanya lapangan pekerjaan bagi orang lain melalui ilmu yang sudah didapatkan selama berkuliah. Mari kita mulai berkolaborasi dengan teknologi internet dalam mewujudkan kesuksesan pemuda di zaman milenial ini, dan tentunya harus dibarengi dengan tetap mempelajari usaha orang lain sebagai 'Batu Loncatan' kita selanjutnya.

Mimpi yang Menjadi Kenyataan

Tahun demi tahun kemudian berlalu, penulis banyak menjalin silaturahmi dengan berbagai pihak di setiap kegiatan yang ada di Kota Banda Aceh. Hal ini bertujuan untuk menawarkan jasa periklanan sekaligus untuk mencari relasi sebanyak-banyaknya. Tepat sekitar tahun 2020, penulis kemudian mulai membangun sebuah organisasi yang dinamakan dengan Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh (PCA) yang bergerak di bidang sosial. Penulis pun segera membentuk dua wadah diskusi berkelanjutan yang bernama forum “Diskusi Keacehan” yang khusus untuk membahas terkait “Keacehan”, dan juga forum “Aceh Lawyers Club” (ALC) yang khusus membahas secara eksklusif segala hal permasalahan di Aceh yang bisa digolongkan sebagai “Isu Darurat”, kemiskinan maupun kesejahteraan misalnya. ALC secara resmi dan perdana diluncurkan di salah satu hotel berbintang di Aceh pada tanggal 14 Maret tahun 2020. Alhamdulillah, kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari pemangku jabatan yang ada di Aceh. Salah satu yang mendukung adalah dari pihak aparat, eksekutif maupun legislatif. Menilik dari kegiatan tersebut, penulis berharap besar bahwa dengan hidupnya wadah diskusi publik di Aceh, maka akan meningkatkan pengetahuan dan nalar berpikir kritis bagi generasi muda serta masyarakat pada umumnya untuk lebih peduli dengan nasib Aceh. Sudah saatnya, generasi kita harus meningkatkan potensi melalui diskusi dan mencari jalan keluar secara aktif dan juga lebih kontributif untuk kemajuan Aceh. Apalagi, kita juga sedang dilanda "Bonus Demografi" saat ini dan produktifitas dari generasi muda harus semakin meningkat demi kesejahteraan Aceh ke depannya.

Berbicara soal “Mimpi yang Menjadi Kenyataan”, membuat sebuah acara di salah satu hotel berbintang di Aceh ini merupakan kejadian yang jauh dari dugaan dan berawal dari pembicaraan singkat di warung kopi agar bisa membangun sebuah wadah diskusi bagi masyarakat Aceh. Dengan dukungan dari seluruh pihak, kegiatan yang diperkirakan memakan dana sekitar Rp. 30 juta lebih ini bisa sukses diselenggarakan secara gratis dan hal ini merupakan mimpi besar penulis yang menjadi kenyataan. Penulis juga berharap kepada para pembaca, bahwa anak muda jangan menyerah karena keterbatasan dana, melainkan kita harus berusaha untuk menciptakan berbagai inovasi yang rela ‘Didanai’ oleh orang lain. Artinya, inovasi-inovasi kita selaku pemuda itu mahal harganya dan kita akan disebut sebagai salah satu generasi yang ‘Berbahaya’ apabila kita mampu berkontribusi bagi peradaban bangsa. Karena pada dasarnya, pemuda merupakan tonggak sejarah perjuangan bangsa dan pemikir yang mempunyai ide-ide yang segar untuk bisa diaplikasikan ke depannya.

Semangat Berbagi

Kegiatan demi kegiatan semakin terealisasikan, berkat dengan adanya usaha periklanan, maka penulis juga membuat program “Semangat Berbagi” di setiap penghasilan. Karena penulis percaya, bahwa di setiap rezeki yang kita dapatkan merupakan bagian daripada hak orang lain juga. Selain itu, melalui organisasi Dewan Pimpinan PCA, kita juga sudah mengadakan banyak kegiatan dan berkontribusi di berbagai aksi sosial. Mulai dari penggalangan dana, kegiatan menjenguk warga kurang mampu, menjenguk korban bencana, aksi solidaritas dan juga persoalan advokasi sosial serta kegiatan diskusi publik. Hal ini akan terus senantiasa kita perjuangkan demi terciptanya cita-cita pemuda untuk berkontribusi penuh bagi masyarakat. Di balik perjuangan ini, tak bisa penulis pungkiri bahwa adanya peranan aktif serta support  dari berbagai pihak; pemerintah, lembaga kepemudaan, media dan juga sahabat yang telah mendukung. Terima kasih, karena masih setia dalam perjuangan ini. Ingatlah satu hal, bahwa tidak ada usaha yang sia-sia dalam kebaikan, kecuali kita memilih untuk tidak bergerak sama sekali. Itu artinya, kita telah dikalahkan oleh rasa takut yang ada pada diri kita.

Mungkin, dari kisah di atas merupakan sebagian kecil dari seluruh kisah kehidupan tak terduga yang penulis alami. Semua kisah yang penulis alami tidak bisa dilontarkan semuanya, dikarenakan untuk menjaga privasi sebagian orang. Penulis berharap, semoga kisah di atas bisa menjadi motivasi bagi para pembaca. Bahwasanya, meskipun kita dihina dan dicemooh, jangan sampai hal itu menjadi penghalang untuk kita berkarya dan berjuang. Kuatkan tekad di dalam hati untuk menuju yang kita cita-citakan. Terkadang, jalan memang tak selalu mulus, namun hal tersebut merupakan ‘Obat Kuat’ bagi perjuangan kita ke depannya. Ingat! Tidak semua orang menyukai kita. Oleh karena itu, tugas utama kita adalah terus berbuat hal yang bermanfaat bagi banyak orang dan acuhkan hal-hal yang kurang penting. Teruslah bergerak untuk perubahan, dan jangan lupa buktikan kepada semuanya bahwa kita juga mampu untuk melakukan. Ingatlah sebuah pepatah “Anak muda harus membangun mimpinya, atau orang lain akan mempekerjakan kita untuk membangun mimpi mereka”. Selamat berjuang! meskipun kita tidak pernah tahu pasti ke mana kita akan 'Melabuhkan' arah perjuangan ini.

*PENULIS adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh, Mahasiswa dan Pegiat Sosial

COMMENTS

Nama

.,2,.berita terkini,11104,.beritaterkini,6,.kalbar,17,(Merlung),3,Aceh,30,ACEH SINGKIL,78,Aceh Tamiang,23,Aceh Tengah,112,ACEH TENGGARA,1,ACEH TIMUR,1,Aekkanopan,9,agam,10,ALAI.,5,ambon,2,Anyer,1,AS,1,Asahan,1,babel,1,Bagansiapiapi,1,bakan,1,BALAESANG,1,bali,1,BALIKPAPAN,5,balut.berita terkini,3,Banda Aceh,8,BANDAR LAMPUNG,2,Bandung,85,Bandung Barat,15,banggai,2,Bangka Belitung,4,Bangka Tengah,1,bangkep,1,BANGKEP - RN,1,BANGKINANG,2,Bangun Purba,1,Banguwangi,1,Banjar,19,Banjarnegara,7,bantaeng,41,Banten,51,Banyuasin,6,Banyumas,10,Banyuwangi,130,Barru,1,Batam,88,batang,5,BATANG HARI,2,BATU,6,batu bara,2,baturaja,3,Bekasi,819,bekasi terkini,2,Bekasi Utara,1,belawan,1,Belitung,150,Beltim,116,Bener Meriah,252,BENGKALIS,35,Bengkayang,64,BENGKULU,4,BENGKULU SELATAN,17,BENGKULU UTARA,1,BER,3,BERI,1,beriita terkini,3,berita,1,Berita terkini,2318,berita terkini.,1,berita terkinia,1,berita terkink,1,berita tetkini,1,berta terkini,1,Bintan,9,Blitar,11,BNN,1,Bogor,244,BOGOR TIMUR,52,Bola,1,BOLAANG MONGONDOW,2,bolmong,214,Bolmong raya,2,bolmong utara,1,bolmongsiar,1,bolmut,1,BOLNONG,1,bolsel,5,boltim,11,BOYOLALI,1,Brebes,49,Bukit Tinggi,45,bukittinggi,5,BUMIMORO,1,BUNGKU,1,Buol,80,BUTENG,1,Catatan Radar Nusantara,1,Ciamis,16,Cianjur,4,Cibinong,3,cikampek,1,Cikarang,43,CIKARANG BARAT,1,CIKARANG PUSAT,1,cikarang utara,1,Cilacap,6,Cilegon,16,cilengsi,1,Cileungsi,41,Cimahi,214,Cirebon,303,Cirebon Kota,1,Dabo Singkep,266,daer,2,Daerah,6797,Daik Lingga,2,Dairi,230,Deli Serdang,12,Deli tua,1,demak,26,Depok,273,derah,4,Dolok,4,Doloksanggul,16,Donggala,42,DPRD Kab. Bekasi,11,DPRD Kota Bekasi,22,Dumai,4,Dumoga,92,Dumoga Utara,2,Ekonomi,3,EMPAT LAWANG,3,fakta,1,Garut,38,gorontalo,35,Gowa,74,Gresik,1,GROBOGAN,1,Gunung Putri,2,Hukum,11,HUMAS BELTIM,6,humbahas,3,INDRA,1,Indragiri hulu,2,indralaya,44,Indramayu,14,info,1,INHIL,1,inhilriau,1,INHU,3,Jabar,7,jaka,1,Jakarta,478,jakarta selatan,4,jakarta timur,1,Jambi,144,JATIM,1,Jawa Barat,8,Jawa Tengah,3,Jawa Timur,7,Jayapura,11,Jember,2,Jeneponto,14,Jepara,105,Jombang,3,kab,6,kab .Bandung,33,Kab 50 Kota,4,kab Bandung,21,kab. Agam,1,Kab. Bandung,3009,kab. bekasi,10,Kab. Bogor,18,Kab. Brebes,3,KAB. CIREBON,2,KAB. DAIRI,1,Kab. Kapuas Hulu,1,KAB. KARO,2,Kab. Kuningan,9,kab. langkat,1,kab. malang,1,Kab. Minahasa Tenggara,1,KAB. PELALAWAN,2,Kab. Serang,2,Kab. Serdang Bedagai,2,Kab. Sukabumi,10,kab. tangerang,4,Kab. Tasikmalaya,24,kab.agam,1,Kab.Bandung,407,Kab.Bekasi,61,KAB.BOGOR.BERITA TERKINI,1,kab.garut,1,kab.langkat,1,Kab.Malang,3,Kab.Samosir,7,KAB.SEMARANG,1,Kab.Sergai,5,KAB.SINJAI,5,kab.sorong,2,Kab.Sumedang,11,Kab.Tangerang,2,kab.Tasikmalaya,3,Kab.Way kanan,7,KABANJAHE,1,kabBandung,2,Kabupaten Bandung Barat,1,KABUPATEN SINJAI,3,KABUPATEN SINJAJ,3,kaimana,1,Kajen,2,Kalbar,575,kalideres,1,Kalimantan Barat,9,kalimantan timur,14,Kalsel,8,Kalteng,119,Kaltim,22,Kampar,70,Kampar Kiri,2,Kampar Riau,94,Kapuas Hulu,236,Karawang,120,KARIMUN,4,KARIMUN - RN,1,KARO,26,katapang,1,KATINGAN,4,KEBUMEN,1,Kec.Ukui,1,Kediri,11,KEEROM,13,Kendari,2,KEPRI,1,Kepulauan Riau,10,Kerinci,22,KETAPANG,1,KOBAR,1,Korupsi,9,KOTA BATU,1,KOTA KOTOMOBAGU,3,KOTA MANNA,2,KOTA METRO,24,Kota Sorong,7,Kotabumi,1,KOTAMIBAGU,3,Kotamobagu,41,KOTAWARINGIN TIMUR,2,KOTIM,6,Kronjo,1,Kuala Kapuas,6,kuala lumpur,1,Kuala Tungkal,8,kuansing,1,kuantan,1,KUDUS,79,Kuningan,288,KUTAI KERTANEGARA,5,Kutai Timur,12,Kutim,6,Labuhan Batu,4,Labura,334,Lahat,28,LAMBATA,1,Lamongan,1,Lampung,46,Lampung Barat,30,LAMPUNG METRO,105,LAMPUNG SELATAN,22,Lampung Tengah,8,Lampung Timur,460,Lampung Utara,261,LAMPUNGUTARA,1,lampura,1,langkat,4,LANTAMAL V,85,LANTAMAL X JAYAPURA,20,lebak,67,LEMBATA,7,LIMAPULUHKOTA,2,Lingga,803,Loksado,1,lolak,1,LOLAYAN,2,Lombok,4,lombok timur,40,LOTIM,12,lotim.berita terkini,37,LUBUK LINGGAU,15,Lubuk Pakam,4,lubuk sikaping,1,lubuklinggau,14,lubuksikapaing,1,LUBUKSIKAPING,1,lukun,1,Lumajang,1,Lumanjang,1,Luwu,2,Luwuk,7,m,1,Magelang,1,mahakam hulu,1,majaleMajalengka,1,Majalengka,201,majalengMajalengka,1,majalenMajalengka,1,majalMajalengka,1,majaMajalengka,1,makasar,1,makassar,79,Malang,178,Maluku,4,Maluku tengah,2,MALUKU UTARA,1,MAMAJU.RN,3,MAMASA,109,MAMUJU,96,MAMUJU TENGAH,4,Manado,18,mancanegara,1,Manokwari,64,MATENG,2,Mauk,2,medan,118,Mekar Baru,1,MEMPAWAH,1,merangin,92,MERANTI,697,MERAUKE,1,Merbau,2,Mesuji,72,metro,201,metro lampung,8,meulaboh,1,Minahasa,3,Minahasa Selatan,2,Minahasa Tenggara,2,Minut,1,miranti,1,Mojokerto,364,monokwari,1,morowali,26,MOROWALI UTARA,1,MORUT,2,moskow,1,Muara Belida,1,muara bungo,3,Muara Enim,193,muara Tami,1,Muaro Jambi,2,Mukomuko,81,muratara,55,Musi Banyuasin,10,MUSI RAWAS,31,musirawas,7,Naibenu,1,Nangka Bulik,2,Nasional,16,Natuna,95,NTB,30,NTT,5,nunukan,23,Ogan Ilir,7,Oku Selatan,446,Oku Timur,39,Opini,6,P. Bharat,1,P.SIANTAR,2,PACITAN,2,Padang,5,Padang Lawas,14,PADANG PANJANG,1,Pagaralam,31,Pagimana,1,Pakpak Bharat,17,Pakuhaji,2,Palangka raya,212,Palas,23,palelawan,9,Palembang,81,pali,2,Palu,135,Paluta,65,pancur batu,1,pande,1,pandegelang,1,Pandeglang,936,pangkalanbun,1,Pangkalpinang,18,Papandayan,1,Papua,49,PAPUA BARAT,80,parapat,1,PARIAMAN,1,Parigi,6,Parigi Moutong,15,PARIMO,34,Parlemen,32,PARUNG PANJANG,1,Pasaman,12,pasbar,1,Pasir Pangarayan,1,PASSI,1,PASSI TIMUR,6,Pasuruan,2,PATI,86,Patia,1,patrol,3,PAYAKUMBUH,3,PEBAYURAN,1,Pekalongan,24,pekan baru,1,Pekanbaru,209,Pekanbaru Riau,240,pelalawan,24,Pematangsiantar,36,Pemkab Bekasi,7,Pemkot Bekasi,6,Pendidikan,80,Penukal Abab Lematang Ilir (PALI),43,perimo,1,PESISIR SELATAN,1,Pilkada,1,pintianak,1,PIPIKORO,1,PN.TIPIKOR,2,polda jabar,1,Polhukam,154,Politik,2,polman,1,Pontianak,1056,Poso,3,primo,3,Pringsewu,24,PROTOKOL DOLOK SANGGUL,1,PT Bukit Asam,1,Pulang Pisau,5,pulau merbau,6,pulpis,1,purbalingga,4,Purwakarta,1026,Purwokerto,1,Putussibau,40,Radar Artikel,4,Radar Selebrity,2,raja ampat,1,RANGSANG,8,rangsang pesisir,3,REMBANG,1,rengat,1,Riau,151,Rohil,1,rokan,1,Rokan Hilir,14,rokan hulu,2,Rongurnihuta,1,Sabang,57,Samarinda,53,sambilan,1,SAMPI,1,Sampit,549,Sangatta kutim,1,Sanggau,1,sar,1,Sarolangun,390,SELAT PANJANG,4,SELATPANJANG,1,Selayar,17,selong,2,Semarang,6,semende,1,SEMOGA,2,SEMOGA TENGGARA,1,Seram Bagian Barat,1,Serang,105,Serdang Bedagai,34,Sergai,29,Seruyan,18,SIAK,9,Sibolga,7,SIDOARJO,2,SIDRAP,15,Sigi,96,Simalungun,95,simpang apek,1,Singaparna,7,SINGKAWANG,1,SINGKEP BARAT,1,Sinjai,6,solo,1,SOLOK,5,Solok Selatan,8,Sorong,61,Sorong selatan,1,Subang,497,SUKABUM,1,Sukabumi,231,Sukoharjo,1,Sulawesi,3,Sulawesi Selatan,32,sulawesi tengah,49,Sulbar,51,Sulsel,19,Sulteng,256,Sulut,258,Sumatera Selatan,5,SUMATERA UTARA,5,SUMB,1,sumba barat,1,Sumbar,48,Sumedang,21,sumsel,38,Sumut,72,Sungai Penuh,1,sungai tohor,3,SURABAYA,51,tajabbarat,1,Takalar,111,TAMBANG,1,Tambraw,3,Tambraw - RN,6,tanah datar,1,TANAH JAWA,3,Tanah Karo,73,Tangerang,373,Tangerang Selatan,7,Tanjab Barat,706,Tanjab Timur,99,tanjabbar,1,tanjung balai,3,Tanjung Enim,1,Tanjung Jabung timur,1,tanjung makmur,1,TANJUNG PINANG,7,tanjung samak,1,TANOYAN,8,Tapanuli Selatan,1,Tapanuli Tengah,16,Tapanuli Utara,10,tapung,3,tarutung,1,Tasikmalaya,117,Tebing Tinggi,66,tebing tinggi timur,1,tebingtinggi barat,7,Tegal,12,teluk bintani,1,teluk buntal,1,Teminabuan,5,tenan,1,Tenggarong,1,ter,1,TERJUN GAJAH,1,Terki,1,Terkin,2,Terkini,13710,TERKINIO,1,TERKINIP,1,terkiri,9,TERKNI,1,Timika,1,Toabo,1,tolitol,3,Tolitoli,1004,tolotoli,2,TOMOHON,4,Touna,3,Trenggalek,20,Tulang Bawang,12,Tulang Bawang Barat,7,Tulung agung,2,Tulungagung,299,Waisai,5,warseno,1,WAY KANAN,1,Yogyakarta,3,
ltr
item
RADAR NUSANTARA NEWS: 5 Tahun Perjalanan Tanpa Arah
5 Tahun Perjalanan Tanpa Arah
https://1.bp.blogspot.com/-A7L_vCRV_hw/XzTv6Pg9_8I/AAAAAAACtrY/ubGdWlAyw2EcJpypuMASoyLWAhRstWAyQCLcBGAsYHQ/s640/WhatsApp%2BImage%2B2020-08-13%2Bat%2B13.58.43.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-A7L_vCRV_hw/XzTv6Pg9_8I/AAAAAAACtrY/ubGdWlAyw2EcJpypuMASoyLWAhRstWAyQCLcBGAsYHQ/s72-c/WhatsApp%2BImage%2B2020-08-13%2Bat%2B13.58.43.jpeg
RADAR NUSANTARA NEWS
https://www.radarnusantara.com/2020/08/5-tahun-perjalanan-tanpa-arah.html
https://www.radarnusantara.com/
https://www.radarnusantara.com/
https://www.radarnusantara.com/2020/08/5-tahun-perjalanan-tanpa-arah.html
true
8338290086939464033
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy