Jamasan Pusaka Tulungagung Tombak Kanjeng Kyai Upas Berlangsung dengan Sakral Dan Khidmad"

Tulungagung - RN Jum'at 21/08/2018Hari ini adalah Hari yang begitu sakral bagi masyarakat Tulungagung karena pada bulan/Sasi Suro(p...


Tulungagung - RN Jum'at 21/08/2018Hari ini adalah Hari yang begitu sakral bagi masyarakat Tulungagung karena pada bulan/Sasi Suro(penanggalan bulan jawa) di lakukan prosesi jamasan pusaka Tulungagung Tombak Kanjeng Kyai Upas yang bertempat di Balai Perpustakaan Dan Kearsipan kabupaten Tulungagung yang berlokasi di Kelurahan Kepatihan. 
Iringan gending jawa Dan bacaan doa menambah kesakralan prosesi jamasan pusaka tombak kyai Upas. Air jamasan pusaka Tombak kyai Upas ini di ambil dari sembilan penjuru mata air "Nawa Tirto "kabupaten Tulungagung yang Di bawa Langsung oleh 9(sembilan) Penari Dayang cantik Dan di kawal prajurit Mataraman, Reog Kendang Kesenian asli Tulungagung sebagai pembuka iringan pembawa Sembilan Cawan Air Jamasan. 
Jamasan tombak kyai Upas ini di hadiri oleh Drs.Indra Fausi,MM selaku penerima mandat air jamasan yang saat ini menjabat Bupati Plh Kabupaten Tulungagung serta Di dampingi Forkopimda Kab Tulungagung ,Turut hadir pula acara jamasan pusaka Tulungagung tombak kyai Upas ini Bpk Arteria Dahlan DPR RI  Dan Wakil Bupati terpilih Bpk.H.Drs.Maryoto Birowo,MM yang Di dampingi tokoh masyarakat Tulungagung H. Gatut Sunu Owner Romo Wijoyo Group,Tombak Kyai Upas adalah pusaka Kabupaten Tulungagung.  Seperti halnya  tulisan dalam buku Sejarah Babad Tulungagung, menurut latar  belakang budayanya atau cerita rakyat dari versi keluarga Raden Mas  Pringgo Kusumo Bupati Tulungagung yang ke X. Konon, pada akhir  pemerintahan Mojopahit banyak keluarga Raja yang membuang gelarnya  sebagai bangsawan, dan melarikan diri ke Bali, Jawa Tengah dan Jawa  Barat.

Salah seorang kerabat Raja bernama Wonoboyo melarikan diri  ke Jawa Tengah dan babat lahan baru daerah hutan disekitar wilayah Mataram dekat Rawa  Pening-Ambarawa Jawa Tengah . Setelah membabat lahan hutan Wonoboyo bergelar Ki Wonoboya.  Selanjutnya hutan yang dibabad itu dikemudian hari di jadikan  suatu  pedukuhan yang ramai. Sesuai dengan nama putranya, oleh Ki  Wonoboyo dukuh itu dinamakan Dukuh Mangir.

Pada suatu hari, Ki Wonoboyo mengadakan selamatan bersih  desa. Banyak para masyarakat Pemuda Dan pemudi yang datang membantu. Namun ada salah satu diantara pemudi yang lupa tidak membawa pisau/Lading(dalam bahasa jawa) ,Dengan amat terpaksa meminjam  kepada Ki Wonoboyo. Dan Ki Wonoboyo tidak keberatan, gadis itu dipinjami  sebuah pisau namun ada pantangannya, yakni jangan sekali-kali pisau itu  ditaruh dipangkuannya. Tetapi gadis itu lupa. Pada saat ia sedang  beristirahat, pisau itu ditaruh dipangkuannya. Namun tiba-tiba pisau itu  lenyap Entah kemana.  Dengan hilangnya pisau tersebut sang gadis pada saat itu dalam kondisi hamil. Ia  menangis, dan menceritakan persoalannya kepada Ki Wonoboyo. Alangkah  prihatinnya Ki Wonoboyo. Yang selanjutnya beliau bertapa dipuncak Gunung  Merapi.

Ketika telah datang saatnya melahirkan, betapa lebih  terkejutnya sang ibu, karena bukannya jabang bayi yang  dilahirkan-melainkan seekor ular naga. Namun bagaimanapun keadaannya ia  tetap anak bagi seorang ibu. Dan ular Naga itu diberi nama Baru  Klinting, yang berikutnya dibesarkan di Rawa Pening. Baru Klinting punya  jiwa dan bahkan bisa berbicara seperti layaknya manusia. Setelah  dewasa, kepada ibunya ia bertanya tentang siapa dan dimana ayahnya.  Dijawablah oleh sang ibu, jika ayahnya adalah Ki Wonoboyo dan saat ini  sedang melakukan tapa di puncak Gunung Merapi.

Atas ijin ibu, berangkatlah Sang Naga mencari ayahnya. Namun  setelah sampai ketempat tujuan, alangkah kecewanya Baru Klinting.  Karena bukannya pengakuan Ki Wonoboyo sebagai ayah, tetapi sebuah cacian  “Tak mungkin Wonoboyo mempunyai anak seekor ular“. Baru Klinting tetap  bersikukuh, maka Ki Wonoboyo mengajukan sebuah tuntutan: lingkarilah  puncak merapi.

Karena untuk mendapatkan pengakuan diri sebagai anak Ki  Wonoboyo, diturutinyalah permintaan ayahnya. Ketika kurang sedikit, Baru  Klinting menjulurkan lidah untuk menyambung antara kepala dan ujung  ekornya, tiba-tiba Ki Wonoboyo memotong lidah itu. Berubahlah lidah ular  raksasa itu menjadi sebilah mata tombak. Yang akhirnya Baru Klinting  melarikan diri dan dikejar oleh Wonoboyo. Baru Klinting, selanjutnya  menceburkan diri ke laut selatan dan berubah wujud menjadi sebatang  kayu. Diambilnya kayu itu oleh Wonoboyo dan dipergunakan sebagai  “landean/gagang“ atau batang tombak, dan tombak itu diberinya nama Kyai Upas.

Sepeninggalan Ki Wonoboyo akhirnya tombak itu dimiliki oleh  putranya yang bernama Mangir. Dan dengan tombak pusaka Kyai Upas, Mangir  bergelar nama “Ki Ajar Mangir“. Kini Mangir menjadi sakti. Desanya  menjadi ramai, dan memutuskan untuk tidak mau tunduk dengan Mataram.  Memisahkan diri, tidak mau terikat oleh kekuasaan Raja. Dengan sikap  Mangir yang seperti itu, pihak Keraton cemas. Tak mungkin Mangir  ditundukkan dengan cara kekerasan. Mangir sakti karena pusakanya.  Akhirnya, terambil kesimpulan oleh Raja Mataram utuk mengirim telik sandi yang berpura-pura “mbarang jantur“ menyelidiki kelemahan Ki Ajar  Mangir.

Putra-putri Raja dikorbankan untuk menjadi “Waranggono“ dan  masuk ke Dukuh Mangir. Tak sia-sia, Ki Ajar Mangir kena jebak. Setelah  putra mendiang Ki Wonoboyo itu mengetahui orang yang mbarang jantur,  dengan waranggononya yang canik-cantik dirinya terpikat dan berujung  pada niatnya untuk memperistri. Terjadilah perkawinan antara Ki Ajar  Mangir dengan Putri Raja.

Setelah sekian lama ia berumah tangga, hingga pada suatu hari Sang Putri  mengatakan pada suaminya, jika sebenarnya dirinya adalah Putri Raja.  Kata Putri, meskipun Raja Mataram adalah musuh dari pada Ki Ajar Mangir,  tetapi mengingat bahwa ia sekarang sudah menjadi menantunya, apakah  tidak sebaiknya jika putra menantu mau menghadap untuk menghaturkan  sembah bekti. Jika Ki Ajar Mangir memang dianggap bersalah, maka sang  Putri bersedia memintakan maaf. Karena didesak oleh sang istri, akhirnya  dengan tombak Kanjeng Kyai Upas juga berangkatlah mereka ke Keraton untuk  sungkem pada orang tua.

Namun karena tujuan pokok kedatangannya ke Mataram untuk  menghaturkan sembah bekti menantu kepada orang tua, maka para penjaga  pintu gerbang-melarang Kyai Upas dibawa masuk ke Keraton.

Ketika Ki Ajar Mangir sedang menghaturkan sungkem, kepalanya  dipegang oleh mertuanya dan dibenturkan pada tempat duduk yang terbuat  dari batu Pualam, sehingga Ki Ajar Mangir tewas seketika itu juga.  Selanjutnya Mangir dimakamkan dalam posisi badan-separo didalam tembok  dan separo diluar tembok Keraton. Dan itu menandakan, meskipun  musuh-tetapi Ki Ajar Mangir juga anak menantu.

Sepeninggalan mendiang Ki Ajar Mangir itu, Mataram terserang wabah/pagebluk dan itu sebabkan oleh Tombak Kyai Upas. Adapun berikutnya,  yang kuat berketempatan tombak Pusaka itu adalah keturunan Raja Mataram  yang mejadi Bupati di Kabupaten Ngrowo (Tulungagung).

Menurut cerita kursi yang terbuat dari batu Pualam yang  dipakai untuk membenturkan kepala Mangir sampai sekarang masih ada,dialah Kota Gede dan dinamakan “Watu Gateng“.(Prtm/Rhdn)

COMMENTS

Nama

.berita terkini,503,Aceh,10,ACEH SINGKIL,75,Aceh Tamiang,22,Aceh Tengah,48,Aekkanopan,2,ambon,2,BALAESANG,1,balut.berita terkini,2,Banda Aceh,3,Bandung,38,banggai,1,Bangka Belitung,2,Bangka Tengah,1,bangkep,1,BANGKEP - RN,1,Bangun Purba,1,Banjar,12,Banjarnegara,1,Banten,13,Banyuasin,5,Banyumas,7,Banyuwangi,26,Barru,1,Batam,62,batang,2,Bekasi,273,Belitung,44,Beltim,75,Bener Meriah,88,BENGKALIS,4,Bengkayang,24,BER,3,Berita terkini,1641,Bintan,8,Blitar,4,BNN,1,Bogor,147,Bola,1,bolmong,113,bolmong utara,1,boltim,9,BOYOLALI,1,Brebes,39,Bukit Tinggi,15,Buol,35,Ciamis,11,Cianjur,2,Cibinong,1,Cikarang,13,Cilacap,5,Cilegon,3,Cileungsi,41,Cirebon,185,Dabo Singkep,94,Daerah,6282,Dairi,67,Deli Serdang,6,Depok,92,derah,4,Dolok,4,Doloksanggul,4,Donggala,2,DPRD Kab. Bekasi,10,DPRD Kota Bekasi,6,Dumoga,19,Dumoga Utara,1,Ekonomi,3,Garut,18,Gowa,3,Gunung Putri,2,Hukum,11,Indramayu,7,Jabar,6,jaka,1,Jakarta,218,Jambi,22,Jawa Barat,8,Jawa Tengah,3,Jawa Timur,7,Jayapura,1,Jember,2,Jeneponto,1,Jepara,30,Jombang,3,kab,2,Kab. Bogor,4,Kab. Brebes,3,Kab. Kuningan,6,Kab. Minahasa Tenggara,1,Kab. Serang,2,Kab. Serdang Bedagai,2,Kab. Sukabumi,8,Kab. Tasikmalaya,15,Kab.Bandung,131,Kab.Bekasi,57,KAB.BOGOR.BERITA TERKINI,1,Kab.Malang,1,Kab.Samosir,2,Kab.Sergai,5,KAB.SINJAI,5,kab.sorong,1,Kab.Sumedang,9,KABUPATEN SINJAI,3,KABUPATEN SINJAJ,3,Kajen,2,Kalbar,35,Kalimantan Barat,1,kalimantan timur,6,Kalsel,7,Kalteng,40,Kaltim,12,Kampar,7,Kampar Riau,11,Kapuas Hulu,225,Karawang,31,Kec.Ukui,1,Kediri,3,Kendari,2,KEPRI,1,Kepulauan Riau,5,Kerinci,3,Korupsi,9,Kota Sorong,3,Kotabumi,1,Kotamobagu,16,Kronjo,1,Kuala Kapuas,5,Kuala Tungkal,1,KUDUS,19,Kuningan,118,KUTAI KERTANEGARA,1,Kutai Timur,11,Kutim,1,Labuhan Batu,4,Labura,100,Lahat,12,Lampung,26,Lampung Barat,24,LAMPUNG METRO,50,Lampung Tengah,4,Lampung Timur,287,Lampung Utara,72,LANTAMAL V,3,lebak,3,Lingga,501,Loksado,1,Lombok,4,lombok timur,1,lotim.berita terkini,27,Lubuk Pakam,4,Lumajang,1,Lumanjang,1,Luwuk,7,Magelang,1,Majalengka,33,makassar,2,Malang,77,Maluku,3,Maluku tengah,2,MAMAJU.RN,2,Manado,7,Manokwari,4,Mauk,2,medan,13,Mekar Baru,1,Mesuji,62,metro,57,Minahasa Selatan,2,Minahasa Tenggara,2,Minut,1,Mojokerto,153,morowali,1,Muara Belida,1,Muara Enim,74,Musi Banyuasin,10,Nasional,15,Natuna,93,NTB,2,Ogan Ilir,3,Oku Selatan,153,Oku Timur,4,Opini,1,Padang,2,Padang Lawas,14,Pagaralam,9,Pagimana,1,Pakpak Bharat,12,Pakuhaji,2,Palangka raya,193,Palas,8,Palembang,23,Palu,86,Paluta,26,Pandeglang,541,Pangkalpinang,2,Papandayan,1,Papua,3,PAPUA BARAT,4,Parigi,6,Parigi Moutong,7,PARIMO,1,Parlemen,32,PARUNG PANJANG,1,Pasaman,10,Pasuruan,1,PATI,7,Patia,1,PAYAKUMBUH,1,Pekalongan,24,Pekanbaru,135,Pekanbaru Riau,3,pelalawan,19,Pematangsiantar,29,Pemkab Bekasi,7,Pemkot Bekasi,3,Pendidikan,75,Pilkada,1,PIPIKORO,1,Polhukam,146,Politik,1,Pontianak,51,Poso,1,Pulang Pisau,4,Purwakarta,395,Purwokerto,1,Putussibau,40,Radar Selebrity,2,Riau,84,Rokan Hilir,9,Sabang,57,Samarinda,22,Sampit,224,sar,1,Sarolangun,73,Selayar,10,Semarang,1,Seram Bagian Barat,1,Serang,17,Serdang Bedagai,32,Sergai,23,Seruyan,4,Sibolga,7,SIDRAP,14,Sigi,20,Simalungun,25,Singaparna,1,Sinjai,4,Solok Selatan,7,Sorong,34,Subang,35,Sukabumi,59,Sulawesi,2,Sulawesi Selatan,31,sulawesi tengah,33,Sulsel,7,Sulteng,176,Sulut,242,Sumatera Selatan,1,SUMATERA UTARA,1,sumba barat,1,Sumbar,16,Sumedang,1,sumsel,6,Sumut,54,Sungai Penuh,1,Takalar,20,Tambraw - RN,1,Tangerang,307,Tanjab Barat,299,Tanjab Timur,15,Tanjung Enim,1,Tapanuli Selatan,1,Tapanuli Tengah,15,Tapanuli Utara,10,Tasikmalaya,45,Tebing Tinggi,62,Tegal,11,ter,1,Terkini,6681,terkiri,4,Timika,1,Tolitoli,352,Touna,1,Trenggalek,9,Tulang Bawang,10,Tulang Bawang Barat,3,Tulungagung,84,Waisai,5,
ltr
item
RADAR NUSANTARA NEWS: Jamasan Pusaka Tulungagung Tombak Kanjeng Kyai Upas Berlangsung dengan Sakral Dan Khidmad"
Jamasan Pusaka Tulungagung Tombak Kanjeng Kyai Upas Berlangsung dengan Sakral Dan Khidmad"
https://3.bp.blogspot.com/-EgmcSXreSAQ/W6sqZRjS7BI/AAAAAAABlDE/5pn9lIyvNrEdSSApYa7RBHyQP-oheh2rQCLcBGAs/s320/IMG-20180921-WA0069.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-EgmcSXreSAQ/W6sqZRjS7BI/AAAAAAABlDE/5pn9lIyvNrEdSSApYa7RBHyQP-oheh2rQCLcBGAs/s72-c/IMG-20180921-WA0069.jpg
RADAR NUSANTARA NEWS
http://www.radarnusantara.com/2018/09/jamasan-pusaka-tulungagung-tombak.html
http://www.radarnusantara.com/
http://www.radarnusantara.com/
http://www.radarnusantara.com/2018/09/jamasan-pusaka-tulungagung-tombak.html
true
8338290086939464033
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy